Profil Idris Sardi merekam jejak langkah seorang maestro biola legendaris tanah air yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk perkembangan dunia seni pertunjukan serta perfilman Indonesia. Lahir pada 7 Juni 1938, ia tumbuh dari keluarga seniman dengan darah musik yang mengalir deras dari sang ayah, Sardi, yang merupakan pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta, serta ibunya, Hadidjah, seorang aktris era 1940 hingga 1970-an.
Bakat besar Idris terlihat sejak usia belia ketika ia mulai belajar memegang biola dari Nicolai Vorfolomeyeff saat menginjak umur delapan tahun. Berdasarkan catatan sejarah pendidikannya, ia bahkan diterima sebagai mahasiswa luar biasa di Akademi Musik Indonesia di Yogyakarta saat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, lalu tampil memukau dalam konser besar di usianya yang baru menginjak sepuluh tahun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengalaman bermusiknya semakin matang ketika ia didaulat menjadi concert master di orkes siswa Sekolah Musik Indonesia pada usia empat belas tahun dan berguru kepada musisi asal Hungaria seperti George Setet serta Henri Tordasi. Tim redaksi mencatat bahwa kehebatan teknik gesek biola Idris membawanya menggantikan posisi sang ayah sebagai violis utama Orkes RRI Studio Jakarta pada usia enam belas tahun setelah sang ayah wafat.
Selain aktif di dunia orkestra, dedikasi Idris di industri perfilman nasional tercatat sangat luar biasa lewat keterlibatannya sebagai penata musik untuk ratusan film layar lebar. Sebagaimana dilaporkan dalam berbagai sumber sejarah perfilman, ia telah menata musik untuk 182 film sejak debutnya melalui film Pesta Musik La Banap hingga industri film nasional mengalami masa mati suri pada tahun 1992.
Dari analisis awak media, prestasi gemilang Idris di kancah perfilman nampak jelas dari rekor sembilan belas kali masuk nominasi Festival Film Indonesia serta keberhasilannya meraih sepuluh trofi Piala Citra. Warisan besar tersebut tidak hanya hidup lewat karya musiknya, tetapi juga diteruskan oleh sang putra tercinta yang juga merupakan aktor kenamaan tanah air, Lukman Sardi.
Idris menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 28 April 2014 di Rumah Sakit Meilia, Cibubur, dalam usia 75 tahun setelah berjuang melawan penyakit lambung dan liver yang dideritanya. Kepergian sang maestro meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan abadi bagi lembaran sejarah musik serta sinema Indonesia.