Inventing the Future: Postcapitalism and a World Without Work adalah sebuah monograf penting yang diterbitkan pada tahun 2015 oleh Verso Books. Buku ini ditulis oleh dua pemikir terkemuka, yaitu Nick Srnicek dan Alex Williams, yang menyoroti ketidakmampuan politik kiri dalam menghadapi sistem kapitalisme modern. Melalui karya ini, para penulis mengajak pembaca untuk memikirkan ulang strategi politik progresif demi masa depan yang lebih adil.
Gagasan utama dalam buku ini berakar dari manifesto politik akselerasionis yang diperkenalkan oleh Srnicek dan Williams pada tahun 2013. Meskipun istilah akselerasionisme kemudian dikurangi penggunaannya karena dianggap terlalu populer, esensi dari pemikiran tersebut tetap dipertahankan. Mereka berargumen bahwa kemajuan teknologi seharusnya digunakan untuk membebaskan manusia dari beban kerja yang berlebihan, alih-alih sekadar mempercepat laju produksi.
Sejak pertama kali diluncurkan, buku ini telah memicu perdebatan luas di kalangan akademisi, pengamat politik, dan para aktivis sosial. Berbagai simposium dan ulasan kritis diterbitkan untuk membahas gagasan-gagasan radikal yang diusung oleh kedua penulis. Buku ini dianggap berhasil mengisi kekosongan intelektual di kalangan progresif pasca krisis ekonomi global dengan menawarkan alternatif yang segar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHingga saat ini, relevansi Inventing the Future tetap dirasakan di tengah diskursus mengenai masa depan pekerjaan dan jaminan sosial. Adaptasi dari buku ini bahkan telah diangkat ke dalam bentuk film dokumenter pada tahun 2020. Karya ini terus menjadi referensi utama bagi siapa saja yang tertarik mendalami studi tentang pascakapitalisme dan reformasi sistem kerja global.
Latar Belakang dan Konsep Utama
Latar belakang penulisan buku ini bermula dari keprihatinan para penulis terhadap dominasi neoliberalisme yang sukses mencapai hegemoninya secara global. Srnicek dan Williams mencatat bahwa keberhasilan kaum neoliberal didukung oleh strategi jangka panjang yang terstruktur, seperti pembentukan jaringan lembaga pemikir dan penempatan gagasan di pemerintahan. Sebaliknya, kaum kiri dinilai terjebak dalam politik fiksi lokal yang reaktif dan kurang memiliki visi jangka panjang yang terkoordinasi.
Dalam bab-bab awal buku, penulis mengkritik kecenderungan gerakan kiri yang terlalu mengedepankan aksi protes spontan tanpa strategi institusional yang matang. Mereka berpendapat bahwa pendekatan yang bersifat lokal dan langsung memang penting, namun tidak cukup untuk meruntuhkan struktur kapitalisme global. Oleh karena itu, kaum progresif disarankan untuk meniru kedisiplinan strategis yang pernah digunakan oleh kaum neoliberal di masa lalu.
Titik balik dalam argumen buku ini terletak pada identifikasi krisis ketenagakerjaan di bawah kapitalisme modern. Penulis menyoroti semakin banyaknya populasi yang berada di luar sistem kerja formal dan hanya mengandalkan kesejahteraan minimal atau pekerjaan informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi saat ini mengalami kegagalan struktural dalam menyediakan pekerjaan yang layak bagi seluruh anggota masyarakat.
Sebagai landasan berpikir, buku ini memegang prinsip bahwa masa depan yang progresif harus merangkul modernitas dan teknologi secara positif. Fondasi nilai yang diusung mencakup upaya membongkar hierarki sosial serta mempromosikan nilai-nilai universal demi mencapai kebebasan yang sesungguhnya. Dengan cara ini, gerakan sosial dapat membangun narasi tandingan yang kuat terhadap hegemoni kapitalis.
Pilar Kebijakan dan Dampak Sosial
Kontribusi utama buku ini terletak pada pengajuan tiga pilar kebijakan utama untuk mencapai masyarakat pasca-kelangkaan. Pilar tersebut meliputi otomatisasi penuh atas berbagai pekerjaan, pengurangan jam kerja secara signifikan untuk mendistribusikan tenaga kerja secara adil, serta penyediaan pendapatan dasar universal yang tidak bersyarat bagi setiap warga negara. Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan lingkaran umpan balik positif antara kenaikan biaya tenaga kerja dan inovasi teknologi.
Pengaruh buku ini terhadap diskursus intelektual sangat luas, terutama dalam mempopulerkan kembali gagasan tentang masyarakat tanpa kerja atau anti-pekerjaan. Konsep-konsep yang ditawarkan dirancang agar cukup menarik bagi berbagai kelompok kepentingan guna membentuk gerakan populis yang solid. Gerakan ini diharapkan mampu menembus media arus utama, dunia akademik, serikat pekerja, serta partai politik.
Meskipun mendapatkan sambutan hangat karena keberanian intelektualnya, buku ini juga tidak luput dari kritik dari berbagai kalangan. Beberapa kritikus, seperti Jon Cruddas, berpendapat bahwa karya ini bersama pemikiran pascakapitalis lainnya cenderung mengabaikan aspek humanisme yang seharusnya menjadi inti dari proyek politik kiri. Kendati demikian, buku ini tetap diakui sebagai intervensi pemikiran yang sangat berani dan berpengaruh.
Pengaruh jangka panjang dari Inventing the Future terlihat dari bagaimana gagasan mengenai pendapatan dasar universal dan otomatisasi kini menjadi bagian dari diskursus kebijakan publik arus utama. Buku ini telah menginspirasi generasi baru pemikir dan aktivis untuk merancang masa depan di mana teknologi melayani kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya, sehingga meninggalkan warisan intelektual yang abadi bagi gerakan sosial global.