Profil Marco van Basten merekam perjalanan salah satu penyerang paling mematikan dan elegan dalam sejarah sepak bola dunia. Lahir di Utrecht, Belanda, ia tumbuh menjadi ikon lini depan yang disegani berkat ketajaman insting mencetak gol serta teknik olah bola yang luar biasa di atas lapangan.
Karier profesionalnya bermula ketika ia bergabung dengan akademi Ajax dan langsung mencuri perhatian publik lewat debut gemilang di kasta tertinggi Liga Belanda. Selama membela klub raksasa Amsterdam tersebut, ia menjelma sebagai mesin gol ulung dengan koleksi trofi domestik maupun Eropa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePuncak kesuksesan level klub berlanjut saat ia hijrah ke Italia untuk memperkuat AC Milan dan menjadi bagian dari trio legendaris asal Belanda bersama Ruud Gullit serta Frank Rijkaard. Bersama Rossoneri, ia mendominasi kompetisi Serie A serta membawa tim meraih gelar juara Liga Champions bergengsi.
Tidak hanya bersinar di level klub, ia juga menjadi pahlawan bagi tim nasional Belanda dengan merengkuh gelar juara Piala Eropa atau Euro 1988. Gol voli spektakuler yang dicetaknya di partai final melawan Uni Soviet tetap abadi sebagai salah satu momen terindah dalam sejarah sepak bola.
Akhir Karier Dini Marco van Basten Akibat Cedera
Meskipun memiliki catatan prestasi yang sangat mengkilap, perjalanan karier cemerlang Marco van Basten harus terhenti di usia yang masih sangat muda. Masalah cedera engkel berkepanjangan memaksa sang striker untuk naik meja operasi berkali-kali tanpa hasil pemulihan yang pasti.
Kondisi fisik yang tidak lagi memungkinkan membuat peraih tiga penghargaan Ballon d Or tersebut harus mengambil keputusan pahit untuk gantung sepatu. Ia resmi mengumumkan pensiun sebagai pemain profesional pada usia 30 tahun setelah berjuang melawan cedera selama bertahun-tahun.
Masa pensiun dini tersebut menyisakan duka mendalam bagi dunia sepak bola karena kehilangan salah satu talenta terbesar yang pernah ada di lapangan hijau. AC Milan memberikan penghormatan terakhir yang emosional di hadapan para suporter setia di San Siro saat ia menyampaikan perpisahan.
Selepas meninggalkan dunia bermain, ia tetap berkontribusi bagi perkembangan sepak bola dengan beralih profesi menjadi seorang pelatih. Pengalaman luar biasa sebagai pemain top dunia dijadikannya sebagai modal berharga dalam menukangi klub maupun tim nasional.