Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Akhir Riwayat Penny, Alasan AS...
EKONOMI

Akhir Riwayat Penny, Alasan AS Hentikan Produksi Koin Satu Sen

By Dewi Lestari • 2 min read • 13 Agustus 2026
Koin penny atau satu sen Amerika Serikat dengan profil Presiden Abraham Lincoln

Koin penny atau satu sen Amerika Serikat dengan profil Presiden Abraham Lincoln

Produksi koin penny Amerika Serikat resmi dihentikan oleh United States Mint setelah beredar selama lebih dari dua abad sebagai alat pembayaran sah. Keputusan besar ini diambil menyusul lonjakan biaya produksi yang melampaui nilai nominal koin itu sendiri, sehingga menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi pemerintah.

Berdasarkan catatan sejarah, koin satu sen pertama kali diperkenalkan pada tahun 1793 melalui mandat Coinage Act 1792 dengan komposisi murni tembaga. Sepanjang sejarah panjangnya, koin ikonik ini mengalami berbagai pergantian desain, mulai dari lambang Lady Liberty hingga penggunaan profil Presiden Abraham Lincoln sejak tahun 1909 untuk memperingati hari lahirnya.

Dari analisis Kabayan News, tantangan terbesar koin penny muncul dalam dua dekade terakhir ketika harga logam melonjak drastis. Biaya pembuatan satu keping koin bahkan sempat menembus angka lebih dari dua sen, menciptakan kondisi negatif bagi pencetakan uang logam di negara Paman Sam.

Selain persoalan biaya, inflasi menggerus daya beli koin tersebut hingga nyaris tidak bernilai dalam transaksi sehari-hari. Berbagai kalangan masyarakat, bank, hingga pelaku bisnis mulai menganggap koin pecahan terkecil ini sebagai beban operasional yang merepotkan.

Meskipun produksi untuk sirkulasi umum telah dihentikan, koin penny yang sudah beredar di masyarakat tetap berstatus sebagai alat pembayaran sah. Pemerintah memastikan koin tersebut masih akan dicetak dalam jumlah terbatas khusus bagi para kolektor numismatik.

Topics
penny amerika serikat united states mint ekonomi sejarah keuangan
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.