Surat kabar The Hankyoreh berdiri di Seoul pada 15 Mei 1988 oleh para mantan jurnalis dari The Dong-A Ilbo dan The Chosun Ilbo yang keluar akibat aksi pembersihan massal. Media harian berhaluan kiri-tengah dan liberal ini digagas sebagai alternatif bagi surat kabar arus utama yang saat itu dinilai berada di bawah pengaruh kuat pemerintah otoriter.
Pada awal peluncurannya, The Hankyoreh mengklaim diri sebagai surat kabar pertama di dunia yang benar-benar independen dari kekuasaan politik maupun modal besar. Untuk menunjukkan perbedaan dengan tradisi media lama, surat kabar ini menjadi pelopor yang menolak penggunaan aksara Hanja dan sepenuhnya memakai huruf Hangul, serta dicetak secara horizontal.
Struktur kepemilikan media ini ditopang oleh lebih dari 60.000 warga sebagai pemegang saham tanpa ada yang memiliki porsi lebih dari satu persen, demi menghindari pengambilalihan yang bersifat merugikan. Basis pembacanya mencakup berbagai kalangan dengan sirkulasi mencapai sekitar 600.000 pembaca di seluruh wilayah Korea Selatan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam perjalanannya, The Hankyoreh dikenal aktif menyuarakan isu hak asasi manusia, reformasi demokrasi, serta perdamaian di Semenanjung Korea. Pada April 2020, media ini juga membentuk tim khusus peliputan perubahan iklim bernama ClimateChange& untuk mengawal isu lingkungan secara mendalam.
Peran dan Fokus Pemberitaan The Hankyoreh
Kebijakan editorial The Hankyoreh berfokus pada pendekatan rekonsiliasi dan dialog damai dalam menangani hubungan antar-Korea serta isu geopolitik di Asia Timur. Sikap politik surat kabar tersebut cenderung mendukung kelompok buruh, kesetaraan hak, serta penerapan kebijakan ekonomi yang memihak redistribusi pendapatan.
Selain itu, media ini secara konsisten memberikan kritik terhadap dominasi konglomerat besar atau chaebol di pasar Korea Selatan serta sistem ujian masuk universitas yang dianggap memperlebar jurang ketimpangan pendapatan. Pendekatan ini menjadikan The Hankyoreh memiliki warna tersendiri di tengah lanskap media nasional.
Komitmen surat kabar terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan membuahkan penghargaan jurnalistik, termasuk perolehan Human Rights Reporting Prize pada 2022 melalui serial investigasi krisis iklim. Melalui laporan tersebut, media menyoroti dampak perubahan ketidakadilan sosial akibat kerusakan lingkungan.
Meski kerap mendapat tantangan dalam industri media yang kompetitif, The Hankyoreh tetap bertahan sebagai salah satu dari empat surat kabar terbesar di Korea Selatan dengan basis pembaca yang loyal dari kalangan intelektual dan kelas menengah ke bawah.