Muzakir Manaf yang lebih akrab disapa Mualem merupakan figur penting di kancah politik dan pemerintahan Provinsi Aceh saat ini. Pria kelahiran Mane Kawan pada 3 April 1964 tersebut kini mengemban amanah sebagai Gubernur Aceh periode 2025-2030 sekaligus Ketua Dewan Kawasan Sabang.
Perjalanan hidup Mualem menyimpan cerita panjang dari masa mudanya sebagai pejuang gerilya Gerakan Aceh Merdeka. Sebelum terjun ke dunia militer pemberontak, ia sempat mendaftarkan diri sebagai calon prajurit Tentara Nasional Indonesia selepas lulus sekolah menengah atas namun gagal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKegagalan tersebut tidak menyurutkan langkahnya karena ia kemudian memutuskan berangkat ke Malaysia dan bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. Pada tahun 1986, ia masuk dalam gelombang pertama anggota yang dikirim ke Libya untuk menjalani pelatihan tempur intensif.
Selama berada di Libya, ia bahkan pernah dipercaya memimpin sekitar empat puluh anggota gerilyawan untuk bertugas sebagai pengawal pribadi pemimpin Libya Muammar Khadafi. Dari pengalaman melatih rekan-rekannya sepulang dari Libya itulah ia mendapatkan julukan Mualem yang berarti guru atau pelatih.
Transformasi Karier Politik dan Kepemimpinan Aceh
Selepas penandatanganan Perjanjian Helsinki, Muzakir Manaf keluar dari persembunyian dan mulai menavigasi perjuangannya melalui jalur politik damai. Ia mendirikan Partai Aceh dan memimpin organisasi Komite Peralihan Aceh demi merangkul para mantan kombatan.
Karier politik formalnya mulai menanjak ketika ia terpilih menjadi Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 mendampingi Zaini Abdullah. Pengaruh kuatnya di kalangan masyarakat serta mantan kombatan tetap terjaga berkat karisma kepemimpinan yang ia miliki.
Setelah sempat mengalami kekalahan dalam kontestasi pemilihan gubernur berikutnya, ia bangkit kembali pada pemilihan kepala daerah serentak. Berpasangan dengan politikus Fadhlullah, ia sukses meraup kemenangan mutlak dengan perolehan suara mencapai lebih dari satu juta suara.
Pasangan tersebut akhirnya resmi dilantik untuk memimpin pemerintahan daerah setempat. Kini, di bawah kepemimpinannya, ia berkomitmen membawa perubahan positif bagi pembangunan serta kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Aceh.