Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004 mencatat sejarah baru sebagai pesta demokrasi tingkat nasional pertama yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat Indonesia. Penyelenggaraan pemilihan umum tersebut dilangsungkan dalam dua putaran pada tanggal 5 Juli dan 20 September 2004 untuk memilih pemimpin periode 2004 hingga 2009.
Berdasarkan hasil rekapitulasi akhir, kontestasi politik bersejarah ini dimenangkan oleh pasangan calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan calon wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kemenangan tersebut sekaligus menandai babak baru sistem pemerintahan Indonesia setelah era reformasi berjalan pasca kejatuhan rezim Orde Baru.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum pelaksanaan pemilu langsung ini, presiden dipilih melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat berdasarkan hasil pemilihan umum legislatif. Perubahan mendasar tersebut tertuang dalam amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 2004 yang menghendaki pemilihan eksekutif langsung oleh warga negara.
Komisi Pemilihan Umum mencatat keterlibatan berbagai partai politik pengusung yang harus memenuhi ambang batas perolehan suara minimal 5 persen atau kursi di Dewan Perwakilan Rakyat sebanyak 3 persen. Aturan ketat ini menyaring pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berkompetisi ketat di panggung politik nasional.
Dinamika Kandidat dan Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono
Pencalonan presiden pada tahun tersebut diramaikan oleh kehadiran presiden petahana Megawati Soekarnoputri yang naik takhta setelah pemakzulan Abdurrahman Wahid. Megawati menghadapi sejumlah pesaing kuat, termasuk wakil presiden petahana Hamzah Haz serta sejumlah purnawirawan jenderal dan tokoh politik penting tanah air.
Pada putaran pertama pemungutan suara, Susilo Bambang Yudhoyono berhasil mengumpulkan perolehan suara terbanyak dari para pemilih. Angka dukungan signifikan tersebut menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono bersama Megawati Soekarnoputri untuk maju ke putaran kedua pemilihan presiden.
Memasuki putaran kedua, Susilo Bambang Yudhoyono sukses mengungguli perolehan suara pesaingnya dengan mengantongi persentase sebesar 60,62 persen dari seluruh surat suara sah. Keunggulan mutlak ini mengantarkannya pada pelantikan resmi sebagai presiden keenam Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2004.
Penyelenggaraan pemilu presiden tahun tersebut menjadi tonggak penting demokratisasi di Indonesia karena berhasil membuktikan kedewasaan politik masyarakat dalam memilih pemimpin secara langsung, aman, serta transparan.