Profil Sangkot Marzuki mencatat perjalanan hidup seorang ilmuwan brilian yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan riset biologi molekuler dan genetika manusia di tanah air. Berdasarkan penelusuran rekam jejak, ilmuwan kelahiran 2 Maret 1944 ini menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Mahidol Thailand serta meraih gelar doktor dari Monash University Australia.
Perjalanan karier Sangkot di luar negeri terbilang cemerlang karena ia sempat berkarya di Australia selama 17 tahun dan memimpin laboratorium biologi molekuler di Monash University. Analisis tim redaksi menunjukkan titik balik penting terjadi ketika ia mendapat panggilan langsung dari Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie pada tahun 1990 untuk pulang membangun fasilitas riset modern di Indonesia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan catatan sejarah, pertemuan penting dengan B.J. Habibie memicu ide cemerlang untuk menghidupkan kembali bekas Laboratorium Penelitian untuk Patologi dan Bakteriologi yang telah lama mati akibat krisis politik. Restu resmi dari Presiden Soeharto akhirnya melahirkan kembali pusat penelitian tersebut dengan nama Lembaga Eijkman pada Juli 1992.
"Saya belum menyelesaikan kalimat saya memimpikan dibukanya kembali lembaga tempat Eijkman pernah bekerja yang sudah lama ditutup, ketika dia mengetuk meja dan berseru: “Begitulah caranya. Kita harus menghidupkan kembali lembaga itu!”" demikian ungkapan Sangkot mengenai momen bersejarah bersama B.J. Habibie tersebut.
Di bawah kepemimpinannya sebagai Direktur Lembaga Eijkman dari 1992 hingga 2014, Sangkot berhasil membawa institusi tersebut menjadi pusat rujukan penting untuk penelitian genom manusia dan penyakit menular. Kontribusi luar biasa tersebut diganjar berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional maupun internasional.
Negara menganugerahinya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama RI pada tahun 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas jasanya di bidang ilmu pengetahuan. Selain itu, ia juga menerima gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas luar negeri terkemuka serta penghargaan Order of Australia atas perannya memperkuat kerja sama ilmiah bilateral.