Sujiwo Tejo merupakan seniman, budayawan, dalang, dan sastrawan multitalenta asal Indonesia yang lahir di Jember pada 31 Agustus 1962. Seniman berdarah Madura yang kerap disapa mbah Tejo atau Presiden Janjukers ini dikenal luas lewat konsistensinya dalam melahirkan karya seni lintas disiplin.
Perjalanan akademisnya sempat dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil jurusan Matematika dan Teknik Sipil. Namun kecintaannya yang mendalam terhadap dunia seni membuat ia memilih keluar dari kampus teknik tersebut demi mendedikasikan seluruh waktunya bagi kesenian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBakat mendalangnya merupakan turunan dari sang ayah, Soetedjo, yang kemudian dikembangkannya secara modern. Ia kerap mendobrak pakem wayang tradisional, termasuk mengubah karakter pewayangan seperti Rahwana dan Pandawa menjadi jauh lebih kompleks serta relevan dengan kondisi zaman.
Selain aktif di dunia pewayangan, ia juga malang melintang sebagai aktor film, musisi, penulis buku, dan wartawan. Berbagai album musik, pertunjukan teater musikal, serta buku esai satire telah ia hasilkan sepanjang perjalanan kariernya.
Kiprah Panjang di Dunia Seni Peran dan Musik
Karier seni peran Sujiwo Tejo dimulai melalui debut film Telegram garapan sutradara Slamet Rahardjo pada 2001. Sejak saat itu, ia membintangi berbagai film populer Tanah Air seperti Janji Joni, Sang Pencerah, Kafir, hingga Detik Terakhir.
Di bidang musik, ia telah menelurkan sejumlah album independen bernuansa kritik sosial seperti album Presiden Yaiyo dan Mirah Ingsun. Konser tunggalnya yang bertajuk Maha Cinta Rahwana juga sukses memukau penikmat seni lewat kolaborasi apik bersama musisi lintas genre.
Sebagai seorang sastrawan, ia aktif menulis karya tulis bernas yang sarat kritik sosial dan humor cerdas. Buku-buku karyanya meliputi Ngawur Karena Benar, Lupa Endonesa, hingga Republik Jancukers yang sangat populer di kalangan pembaca.
Hingga kini, Sujiwo Tejo tetap konsisten berkarya dan menjadi figur penting dalam lanskap kebudayaan Indonesia, mempertahankan idealisme seni tanpa sekat.