Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 9,2 hingga 9,3 mengguncang pesisir barat Aceh pada 26 Desember 2004 pukul 07.58 waktu setempat.
Megagempabumi megathrust bawah laut tersebut dipicu pecahnya patahan antara lempeng Burma dan lempeng India. Guncangan ini tercatat sebagai salah satu peristiwa seismik paling kuat dalam sejarah modern planet bumi.
Getaran hebat itu tidak hanya merusak wilayah Sumatra, tetapi juga memicu gelombang tsunami raksasa setinggi hingga 30 meter. Gelombang destruktif ini menyapu kawasan pesisir Samudra Hindia secara cepat dan masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSekitar 227.898 jiwa dilaporkan meninggal dunia di 14 negara terdampak parah, terutama di Aceh, Sri Lanka, India, dan Thailand. Peristiwa ini mencatatkan diri sebagai bencana alam paling mematikan sepanjang abad ke-21.
Dampak Geologis dan Rekor Kekuatan Gempa
Dampak kehancuran fisik dan lumpuhnya aktivitas ekonomi di wilayah pesisir mengundang solidaritas kemanusiaan global. Donasi kemanusiaan internasional terkumpul hingga lebih dari 14 miliar dolar AS untuk membantu pemulihan kawasan terdampak.
Analisis ilmiah menunjukkan bahwa gempa Aceh 2004 memiliki durasi pematahan terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah seismografi modern. Proses pelepasan energi berlangsung sedikitnya selama sepuluh menit penuh.
Pergerakan kerak bumi tersebut membuat seluruh planet bumi bergetar hingga mencapai sepuluh milimeter. Energi raksasa dilepaskan setara dengan seperdelapan dari total momen seismik global dalam kurun waktu satu abad.
Kenaikan dasar laut akibat pergeseran lempeng mendua ini memindahkan volume air laut dalam jumlah masif. Perubahan morfologi dasar samudra tersebut bahkan memicu kenaikan permanen permukaan air laut global secara tipis.
Peristiwa kelam ini menjadi pelajaran berharga bagi sistem mitigasi bencana internasional. Penguatan teknologi peringatan dini tsunami kini menjadi prioritas utama guna meminimalisasi risiko korban jiwa di masa depan.