Sedikitnya 11 orang dilaporkan tewas dan 18 lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan udara yang dilancarkan militer Israel ke wilayah Lebanon Selatan pada Sabtu pagi. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa para korban termasuk di antaranya adalah tiga anak-anak dan sejumlah perempuan.
Serangan tersebut menargetkan beberapa wilayah di distrik Nabatieh, termasuk kota Ansar dan Deir al-Zahrani. Data terbaru menunjukkan bahwa insiden di Deir al-Zahrani saja telah mengakibatkan empat orang tewas dan 17 lainnya terluka.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam keras eskalasi ini dan menyebutnya sebagai tindakan yang "sangat berbahaya". Dalam pernyataannya di platform X, ia menegaskan bahwa serangan tersebut mencederai upaya stabilitas di wilayah Lebanon Selatan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMiliter Israel mengklaim bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap aktivitas kelompok Hizbullah di bukit Ali al-Taher. Namun, pemerintah Lebanon membantah keras tuduhan bahwa lokasi-lokasi yang diserang merupakan infrastruktur militer.
Latar Belakang dan Kronologi Serangan
Serangan di kota Ansar tercatat sebagai serangan udara Israel pertama yang menembus kedalaman geografis Lebanon sejak gencatan senjata resmi berlaku dua bulan lalu. Peristiwa ini menghancurkan bangunan rumah warga yang berada di pinggiran kota.
Rangkaian serangan dimulai sejak Sabtu pagi dan meluas ke berbagai titik di Nabatieh, termasuk bukit Ali al-Taher. Sebelumnya, Israel dan Lebanon telah menandatangani kerangka kerja kesepakatan pada 26 Juni di bawah sponsor Amerika Serikat.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran internasional terkait rapuhnya perdamaian di kawasan tersebut. Meskipun ada kesepakatan penarikan bertahap pasukan Israel, ketegangan militer di lapangan dilaporkan masih terus berlangsung.
Sejak konflik dimulai pada 2 Maret, total korban jiwa di pihak Lebanon telah mencapai 4.335 orang. Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa eskalasi ini terus menambah jumlah korban sipil yang terdampak secara langsung.
Respons Pemerintah dan Harapan Stabilitas
Perdana Menteri Nawaf Salam menegaskan bahwa keamanan rakyat Lebanon adalah hak yang tidak dapat dinegosiasikan. Ia menekankan bahwa penanganan infrastruktur militer di wilayah Lebanon merupakan wewenang eksklusif negara dan institusi resminya.
Pemerintah Lebanon menuntut Israel untuk segera menghentikan eskalasi yang merusak upaya perdamaian. Keberadaan target militer yang diklaim Israel dinilai tidak memberikan hak bagi mereka untuk melanggar kedaulatan wilayah Lebanon.
Harapan untuk stabilitas di Lebanon Selatan kini berada dalam ketidakpastian setelah insiden mematikan ini. Masyarakat internasional terus memantau apakah kesepakatan gencatan senjata yang ada masih memiliki kekuatan hukum atau akan terus dilanggar.
Hingga saat ini, pihak berwenang terus melakukan pendataan korban jiwa dan luka-luka di lokasi kejadian. Fokus utama pemerintah saat ini adalah perlindungan warga sipil di tengah ancaman militer yang terus berlanjut.