Film Ada Cinta di SMA produksi Starvision dirilis pada tanggal 6 Oktober 2016 dengan mengangkat latar belakang cerita kehidupan masa remaja di sekolah menengah atas. Karya layar lebar arahan sutradara Patrick Effendy ini dibintangi oleh para personel grup vokal CJR bersama deretan aktris muda berbakat.
Cerita berpusat pada tokoh Iqbal diperankan oleh Iqbaal Dhiafakhri yang merasa bosan dipandang sebelah mata oleh orang lain di sekitarnya. Guna mengubah citra tersebut, Iqbal nekat maju mencalonkan diri sebagai ketua OSIS dan bersaing langsung melawan Ayla diperankan oleh Caitlin Halderman.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLangkah pencalonan Iqbal sempat mendapat cibiran dari banyak pihak termasuk sahabat dekatnya sendiri yaitu Aldi diperankan Alvaro Maldini. Kendati demikian, persahabatan mereka tetap teruji ketika Aldi akhirnya memutuskan turun tangan memberikan dukungan penuh demi menghadapi tim sukses lawan.
Di sisi lain, anggota CJR lainnya yaitu Kiki diperankan Teuku Ryzkyi harus merampungkan masa baktinya sebagai ketua OSIS periode sebelumnya. Kiki lantas kembali fokus mengejar impian lama terpendam untuk menjadi seorang musikus handal di tengah kesibukan sekolah.
Fakta Menarik dan Perjalanan Produksi Film Ada Cinta di SMA
Proses penggarapan film Ada Cinta di SMA ternyata menyimpan sejarah panjang sebelum akhirnya resmi dirilis ke publik. Proyek ini awalnya digagas sejak tahun 2011 dan diproyeksikan khusus untuk penyanyi Sherina Munaf dengan judul awal Putri dan Pangeran.
Kendala jadwal padat membuat produksi mengalami pengunduran waktu cukup lama hingga para pemeran asli beranjak dewasa. Sutradara Patrick Effendy kemudian menawarkan proyek tersebut kepada grup musik CJR yang pada masa itu memang sedang berada dalam fase usia sekolah menengah atas.
Perubahan jajaran pemain utama otomatis membuat judul film mengalami penyesuaian beberapa kali sebelum ditetapkan menjadi Ada Cinta di SMA. Penulis skenario Haqi Achmad bersama sutradara melakukan perombakan naskah tanpa mengubah gagasan dasar cerita awal.
Setelah melalui berbagai penundaan jadwal tayang dari rencana awal, film ini akhirnya sukses menyapa penonton bioskop Indonesia dan berhasil meraup ratusan ribu penonton. Pencapaian tersebut memperkuat eksistensi film bertema remaja dalam industri perfilman tanah air.