Pernyataan tegas disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia terkait penggunaan istilah bencana alam yang dinilai sering dipakai untuk menutupi akar persoalan kerusakan ekologis di berbagai wilayah.
Perwakilan WALHI Jawa Tengah, Zakaria, menyatakan bahwa banjir, tanah longsor, kekeringan, abrasi, serta bencana hidrometeorologi lain tidak semestinya dipandang sebagai peristiwa murni dari alam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis Kabayan News, berbagai bencana tersebut berkaitan erat dengan kerusakan ekosistem serta buruknya tata ruang tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan.
"Selama akar persoalan berupa kerusakan ekologis dan tata kelola lingkungan yang buruk tidak diselesaikan, bencana akan terus berulang," ujar Zakaria dalam deklarasi Desk Disaster WALHI Region Sumatera dan Jawa.
Pemerintah didesak segera mengevaluasi ulang tata kelola sumber daya alam serta menghentikan kebijakan yang berpotensi memperbesar risiko bencana bagi masyarakat luas.
Sementara itu, perwakilan WALHI Sumatera Selatan, Suci Indah Sari, mengungkapkan kekhawatiran publik perlahan dipaksa menerima bencana sebagai suatu kewajaran akibat faktor geografis.
"Yang lebih mengkhawatirkan, publik perlahan dipaksa menerima kondisi ini sebagai sesuatu yang wajar, seolah-olah bencana hanyalah konsekuensi alamiah dari letak geografis Indonesia," kata Suci.
Melalui pembentukan Desk Disaster, WALHI bersama komunitas pecinta alam berkomitmen mengawal krisis ekologis, menyuarakan hak korban, serta mendorong keterlibatan generasi muda.