Sebanyak 138 juta anak di dunia masuk dalam kategori pekerja anak berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa terbaru yang mencakup sekitar 8 persen dari seluruh populasi anak berusia 5 hingga 17 tahun. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, angka fantastis tersebut setara dengan jumlah anak untuk mengisi sekitar dua juta bus sekolah di berbagai belahan dunia.
Target global Sustainable Development Goals untuk mengakhiri segala bentuk pekerja anak pada tahun 2025 terbukti gagal tercapai karena skala permasalahan jauh lebih kompleks dari perkiraan. Mengutip laporan Our World in Data, definisi pekerja anak tidak hanya terbatas pada eksploitasi di pabrik berbahaya, tetapi juga melibatkan aspek usia, durasi jam kerja, serta jenis aktivitas yang mengganggu hak pendidikan anak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan data statistik internasional, sebanyak 54 juta anak dikategorikan bekerja dalam kondisi berbahaya seperti industri berat atau durasi kerja ekstrem yang melampaui batas wajar. Sementara itu, 84 juta anak lainnya bekerja pada sektor non-berbahaya namun tetap dihitung sebagai pekerja anak karena faktor usia terlalu dini atau menghabiskan waktu terlalu banyak sehingga mengorbankan waktu belajar.
Mayoritas pekerja anak dunia atau sekitar 60 persen di antaranya beraktivitas di sektor pertanian subsider skala kecil bersama keluarga mereka di wilayah seperti sub-Sahara Afrika. Aktivitas seperti memberi makan hewan ternak di usia 11 tahun tetap dihitung sebagai pelanggaran karena merampas hak anak untuk mendapatkan pendidikan, istirahat, serta waktu bermain.
Aturan pengukuran internasional menetapkan ambang batas kerja selama 43 jam per minggu sebagai kategori pekerjaan berbahaya meskipun jenis pekerjaannya tidak melibatkan risiko fisik secara langsung. Sebaliknya, pekerjaan domestik rumah tangga seperti mengasuh saudara kandung atau membersihkan rumah justru tidak dimasukkan ke dalam kategori statistik resmi karena tidak menghasilkan aktivitas ekonomi formal.
Pakar Our World in Data menekankan bahwa penyelesaian masalah ini membutuhkan pendekatan komprehensif termasuk meningkatkan produktivitas pertanian untuk mengatasi kemiskinan akar rumput. Pengentasan pekerja anak memerlukan solusi terarah mengingat ragam situasi di lapangan sangat bervariasi dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kebijakan tunggal.