Kembalinya berbagai barang kebutuhan ke pasar-pasar di Jalur Gaza tidak serta-merta mengakhiri penderitaan warga sipil di wilayah konflik tersebut. Kendati pasokan mulai terlihat setelah berbulan-bulan mengalami kelangkaan akibat blokade, masalah terbesar yang dihadapi keluarga-keluarga di Gaza saat ini adalah ketiadaan uang untuk membelinya.
Kondisi tersebut dirasakan betul oleh Ghadeer Nassar, seorang ibu yang harus berjuang menghidupi tujuh anaknya di sebuah ruang kelas kecil di Remal Model School bersama para pengungsi lainnya. Suaminya tidak memiliki sumber penghasilan tetap dan hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang sangat minim setiap harinya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Dia biasa melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia, dan terkadang dalam sehari tidak menghasilkan lebih dari tujuh atau sepuluh syekel," ujar Nassar menggambarkan beratnya situasi ekonomi keluarganya di tengah krisis yang berkepanjangan.
Demi memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya, Nassar bahkan terpaksa menjual cincin pernikahan serta ponsel milik suaminya. Ketika uang tunai sama sekali tidak ada, ia terpaksa melakukan sistem barter, seperti menukar satu kilogram beras dengan empat kilogram kacang lentil agar bisa bertahan lebih lama.
Daya Beli Runtuh dan Harga Barang Melonjak Tinggi
Dihantam oleh hancurnya perekonomian dan hilangnya jutaan lapangan pekerjaan, daya beli masyarakat Gaza merosot tajam. Data pasar PBB mencatat bahwa indeks harga konsumen makanan saat ini melompat hingga 102 persen lebih tinggi dibanding level sebelum perang berkecamuk.
Maher al-Khudari, seorang pemilik toko di Kota Gaza, mengungkapkan bahwa pola belanja warga telah berubah drastis karena tabungan mereka sudah habis. Banyak pelanggan yang hanya mampu membeli dalam jumlah sangat sedikit dan terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Masalahnya adalah orang-orang bahkan tidak memiliki jumlah uang minimum untuk mengamankan sepotong roti," ucap al-Khudari sambil menceritakan dilema yang dihadapinya sebagai pedagang di tengah situasi krisis.
Pakar ekonomi Palestina Mohammed Abu Jiab menegaskan bahwa ketersediaan barang di pasar bukanlah bukti adanya aktivitas ekonomi yang sehat. Tanpa adanya pembukaan lapangan kerja dan penciptaan pendapatan baru bagi warga, pemulihan ekonomi di Gaza dipastikan mustahil tercapai.