Berdasarkan laporan media, gelombang kebangkrutan perusahaan di Jepang kian mengkhawatirkan setelah mencatatkan 1.028 kasus sepanjang bulan Juli 2026. Angka tersebut menandai bulan kedua secara berturut-turut di mana kegagalan bisnis di Negeri Sakura menembus level seribu kasus.
Mengutip laporan Suara.com, pemicu utama kebangkrutan massal ini merupakan kombinasi fatal antara krisis jumlah tenaga kerja dan lonjakan biaya operasional. Usaha dengan skala kecil menjadi kelompok paling rentan yang tidak mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang berat.
Total kewajiban finansial dari seluruh perusahaan yang gulung tikar melonjak hingga 41,4 persen dibanding tahun sebelumnya dengan menyentuh angka 236,3 miliar yen. Lonjakan nilai utang tersebut turut didorong oleh ambruknya penyedia sistem transaksi kartu kredit asal Osaka, Zentoshin, yang menanggung beban utang raksasa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain masalah utang, kelangkaan tenaga kerja juga memaksa puluhan perusahaan berhenti beroperasi karena ketidakmampuan manajemen menanggung kenaikan biaya gaji pegawai. Sebagaimana diwartakan, perusahaan terpaksa menaikkan upah demi mengamankan pekerja, namun hal itu justru memperburuk arus kas di tengah pendapatan yang minim.
Tekanan ekonomi semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar yen yang membuat harga bahan baku impor kian melambung tinggi. Dampak krisis ini merata ke berbagai sektor industri utama, dengan sektor jasa dan konstruksi menjadi bidang yang mengalami penurunan paling parah.