Ilham Habibie menyoroti keprihatinan sosial berupa tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia serta menilai kebijakan hilirisasi komoditas sumber daya alam belum cukup untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Putra Presiden ke-3 RI BJ Habibie ini menyampaikan bahwa hilirisasi pada hakikatnya hanyalah tahap permulaan yang sangat mendasar dari rantai panjang proses pembangunan industri manufaktur nasional.
Pemerintah diimbau melakukan otokritik terhadap model industrialisasi saat ini yang belum mampu menyerap jutaan tenaga kerja terdidik di tanah air. Berdasarkan data nasional terbaru, terdapat sedikitnya satu juta lulusan sarjana yang menyandang status pengangguran terbuka serta sekitar empat juta sarjana lainnya terpaksa bekerja di sektor informal secara serabutan.
Kondisi kontradiktif tersebut dipicu oleh terus menurunnya kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia dari tahun ke tahun yang kini merosot berada di angka 18,5 persen. Pertumbuhan ekonomi yang optimal membutuhkan kontribusi industri manufaktur di atas 25 persen untuk mampu menciptakan lapangan pekerjaan formal secara masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRasio Insinyur Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga
Akar masalah dari lambatnya laju industrialisasi nasional bersumber dari minimnya porsi lulusan sarjana di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM. Porsi mahasiswa yang tertarik mengambil bidang sains dan teknik di Indonesia hanya berkisar antara 15 hingga 20 persen, jauh tertinggal dibandingkan Tiongkok yang melampaui angka 40 persen.
Perbandingan jumlah insinyur di Indonesia dinilai sangat mengkhawatirkan karena hanya memiliki 2.500 insinyur per satu juta penduduk. Angka tersebut tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang memiliki lebih dari 9.000 insinyur per satu juta penduduk.
"Kita kekurangan orang teknis di Indonesia. Padahal, tanpa adanya ketersediaan SDM yang mumpuni di bidang teknologi dan teknik, sangat mustahil bagi industri nasional kita untuk bisa berkembang, berinovasi, dan bersaing secara mandiri di kancah global," ujar Ilham di Studio Tribunnews, Jakarta.
Ilham menambahkan bahwa Indonesia menghadapi lingkaran setan di mana industri tidak mampu menyerap insinyur karena tidak berkembang, sementara anak muda enggan mengambil kuliah teknik akibat minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan.
Negara maju seperti Jepang membuktikan bahwa kemajuan industri tidak bergantung pada kepemilikan sumber daya alam, melainkan kemampuan menciptakan produk bernilai tinggi melalui penguasaan teknologi serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.