InterContinental Hotels Group bersiap menghadapi rilis laporan keuangan paruh pertama tahun ini dengan optimisme tinggi meskipun tekanan kenaikan biaya utang terus membayangi sektor perhotelan global.
Berdasarkan analisis platform investasi AJ Bell, ketahanan model bisnis InterContinental terbukti ampuh meredam dampak awal konflik Timur Tengah yang sempat melemahkan sektor perjalanan liburan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeModel bisnis aset ringan diterapkan InterContinental lewat pengelolaan hotel serta pemberian lisensi merek kepada pihak waralaba, sehingga perusahaan mampu berekspansi pesat tanpa harus menggelontorkan dana raksasa untuk membeli properti.
Pendapatan per kamar tersedia atau RevPAR milik InterContinental tercatat melonjak lebih dari 4 persen pada kuartal pertama berkat kekuatan permintaan domestik serta regional di berbagai belahan dunia.
Selain InterContinental, perhatian para pelaku pasar juga tertuju pada raksasa asuransi Aviva yang mencatatkan harga saham mendekati level tertinggi dalam 52 pekan terakhir menjelang pengumuman kinerja keuangan.
Menurut pengamatan Kabayan News, para investor kini menantikan bukti nyata dari Chief Executive Officer Aviva Amanda Blanc terkait progres pencapaian target jangka menengah serta integrasi bisnis Direct Line.
Pengamat pasar menilai kedisiplinan finansial serta pengendalian biaya utang akan menjadi faktor penentu utama bagi keberhasilan kedua korporasi besar tersebut dalam menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.