Kebijakan pemangkasan target produksi batu bara nasional pada awal 2026 memberikan pukulan telak bagi perekonomian Kalimantan Timur. Berdasarkan laporan media lokal, penyesuaian kuota tersebut membuat Benua Etam harus rela kehilangan potensi produksi hingga ratusan juta ton.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menyatakan bahwa penurunan produksi yang harus ditanggung daerahnya mencapai sekitar 114 juta ton. Sebagaimana diwartakan, angka ini merosot tajam jika dibandingkan dengan realisasi produksi pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 438 juta metrik ton.
Lebih lanjut, penurunan aktivitas penambangan ini langsung dirasakan oleh perusahaan kontraktor di lapangan. Menurut keterangan Dinas ESDM Kaltim, para penyedia jasa pengupasan tanah dan alat berat terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja akibat lesunya volume produksi, meskipun karyawan organik perusahaan pemegang izin tambang masih terpantau aman.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, angin segar mulai berhembus sejak awal Juli 2026 setelah pemerintah pusat membuka ruang relaksasi produksi. Dikutip dari laporan media, kebijakan pelonggaran ini diberikan dengan mempertimbangkan tren harga batu bara dunia yang membaik serta kontribusi royalti perusahaan.
Pemerintah tetap memprioritaskan pasokan batu bara dalam negeri untuk kebutuhan PT PLN demi menjaga ketahanan energi nasional. Di tengah dinamika kebijakan tersebut, ketergantungan ekonomi Kalimantan Timur yang masih bertumpu pada sektor pertambangan kembali menjadi sorotan utama.