Industri kecerdasan buatan bersiap melahirkan gelombang baru orang-orang sangat kaya yang mulai memikirkan langkah menyalurkan harta kekayaan mereka untuk kegiatan filantropi.
Banyak calon donatur baru dari sektor teknologi terjebak dalam lanskap donasi yang membingungkan serta infrastruktur keuangan yang kurang mendukung aksi nyata.
Sebagian besar filantropis pemula diarahkan untuk menggunakan dana penasihat donor atau donor-advised fund yang menawarkan keuntungan pajak instan sebelum saham IPO ditransfer.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati pembukaan akun DAF dianggap sebagai langkah bertanggung jawab secara finansial, sistem tersebut memiliki celah struktural serius karena dana mengendap tanpa kewajiban distribusi cepat.
Dana Amal Menumpuk di Lembaga Sponsor Tanpa Penyaluran
Data menunjukkan lebih dari 300 miliar dolar modal filantropi saat ini tertahan di akun DAF Amerika Serikat dengan tingkat pencairan tahunan yang tergolong sangat rendah.
Lembaga sponsor pengelola DAF justru meraup pendapatan besar dari biaya pengelolaan aset tanpa ada dorongan finansial untuk segera menyalurkan dana amal tersebut ke masyarakat.
Fidelity Charitable bahkan tercatat sebagai pengumpul dana amal terbesar di Amerika Serikat melampaui rumah sakit dan bank makanan konvensional dalam perolehan kontribusi.
Berbeda dengan yayasan swasta yang diwajibkan menyalurkan minimal lima persen aset setiap tahunnya, rekening DAF tidak memiliki aturan tegas terkait batas waktu distribusi dana.
Kongres Amerika Serikat memberikan keringanan pajak dengan asumsi dana tersebut pada akhirnya sampai ke tangan badan amal, namun praktik di lapangan justru berbeda jauh.
Sistem filantropi yang berlaku saat ini memerlukan reformasi mendalam agar tujuan mulia para dermawan baru tidak terjebak dalam skema penundaan pajak tanpa batas.