Krisis ekonomi Venezuela memicu kelangkaan akut pangan dan kebutuhan pokok yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat di negara tersebut. Berdasarkan laporan, kelangkaan ini berakar dari penerapan kontrol harga dan berbagai kebijakan ekonomi era pemerintahan Hugo Chávez yang kemudian diperparah oleh kebijakan pembatasan pasokan dolar Amerika Serikat kepada importir di bawah kepemimpinan Nicolás Maduro.
Kepala Departemen Riset Ekonomi tim redaksi mengamati bahwa situasi tersebut melahirkan krisis pengungsi terbesar dalam sejarah benua Amerika. Pemerintahan Maduro berulang kali menyangkal tingkat keparahan krisis serta menolak bantuan kemanusiaan internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amnesty International ketika kondisi masyarakat semakin memprihatinkan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelama puncak krisis berlangsung, pasokan komoditas penting seperti susu, daging, beras, minyak, hingga obat-obatan mengalami kelangkaan parah. Berdasarkan data Federasi Farmasi Venezuela pada Januari 2017, tingkat kekurangan obat-obatan mencapai angka 85 persen, sementara warga harus mengantre selama berjam-jam demi mendapatkan kebutuhan dasar.
Pengamat ekonomi internasional menilai bahwa ketergantungan berlebihan pada pendapatan minyak sejak era 1990-an menjadi titik awal kejatuhan sektor produksi pangan lokal. Pemerintah Venezuela sendiri sempat berkilah dengan menuduh pihak asing serta penyelundup sebagai dalang di balik kekacauan ekonomi, alih-alih mengevaluasi efektivitas kebijakan domestik mereka.
Situasi mulai mereda setelah pemerintahan Maduro melonggarkan peraturan penukaran mata uang yang ketat pada tahun 2019, membuat perekonomian beralih menuju dolarisasi informal. Langkah tersebut membantu meredakan kelangkaan barang di pasaran, meskipun tantangan pemulihan ekonomi secara menyeluruh masih memerlukan waktu panjang.