Anwar Ibrahim memegang tampuk kepemimpinan sebagai Perdana Menteri Malaysia sejak akhir tahun 2022 setelah melalui perjalanan politik penuh liku. Tokoh kelahiran Pulau Pinang, 10 Agustus 1947 ini harus menanti selama puluhan tahun di blok oposisi sebelum akhirnya sukses menduduki kursi nomor satu pemerintahan.
Karier politik awal dimulai saat ia bergabung dengan Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu hingga menduduki posisi sebagai Wakil Perdana Menteri di bawah kepemimpinan Mahathir Mohamad. Namun, dinamika internal partai dan perbedaan pandangan politik membuatnya dipecat dari keanggotaan pada tahun 1998.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelepas pemecatan tersebut, ia bersama para pendukung setianya melancarkan gerakan reformasi besar-besaran di seluruh negeri. Gerakan ini menjadi landasan pembentukan partai baru bernama Partai Keadilan Rakyat yang kemudian menjelوة kekuatan oposisi signifikan di parlemen.
Di tengah perjuangan politiknya, ia sempat menghadapi berbagai ujian berat termasuk vonis hukuman penjara dalam beberapa periode berbeda. Setelah melalui proses panjang dan pembebasan bersyarat, ia memimpin koalisi Pakatan Harapan memenangi pemilu legislatif hingga dilantik sebagai perdana menteri.
Kehidupan Keluarga dan Kontroversi Politik
Latar belakang keluarga tokoh politik senior ini tidak lepas dari dunia pergerakan dan organisasi. Ayahnya merupakan seorang politisi senior dan mantan anggota parlemen, sementara sang ibu aktif dalam sayap organisasi perempuan partai politik.
Dalam kehidupan pribadinya, ia menikah dengan Wan Azizah Wan Ismail pada tahun 1980 dan dikaruniai enam orang anak. Sejumlah anak mengikuti jejak langkahnya di dunia politik, termasuk putrinya yang aktif berkiprah di dalam struktur partai.
Perjalanan kepemimpinannya sebagai kepala pemerintahan tidak luput dari sorotan publik serta berbagai kritik tajam dari pihak oposisi. Salah satu isu yang sempat memicu perdebatan publik adalah penunjukan anggota keluarga dalam posisi penasihat keuangan perdana menteri.
Selain penunjukan tersebut, lawatan diplomatik kenegaraan ke luar negeri juga pernah menuai dinamika dan perdebatan di dalam sidang parlemen. Berbagai tantangan tersebut mewarnai babak baru kepemimpinannya dalam mengelola stabilitas politik domestik.