Krisis ekonomi melanda Denmark-Norway pada awal Januari 1813 yang berujung pada kebangkrutan negara akibat dampak berat Perang Napoleon. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, keputusan politik Raja Frederik VI untuk beraliansi dengan Prancis membawa petaka finansial dan hilangnya sebagian besar wilayah kekuasaan.
Aliansi dengan Napoleon Bonaparte yang terjalin pasca serangan Inggris terhadap Kopenhagen pada tahun 1807 menuntut biaya persenjataan yang sangat tinggi. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, pencetakan uang kertas secara berlebihan tanpa cadangan perak yang sepadan menyebabkan devaluasi mata uang yang parah serta inflasi hingga 300 persen pada tahun 1813.
Mengutip laporan historis, pemerintah akhirnya resmi mengumumkan kebangkrutan pada tanggal 5 Januari 1813 demi menyelamatkan perekonomian domestik yang lumpuh total. Upaya penyelamatan dilakukan melalui pembentukan institusi Rigsbank guna menstabilkan sistem moneter serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap mata uang perak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDampak Perang Napoleon tidak hanya merusak sektor finansial, tetapi juga mengubah peta kekuatan politik Eropa melalui Perjanjian Kiel pada Januari 1814. Raja Frederik VI terpaksa menyerahkan kedaulatan Norwegia kepada Raja Charles XIII dari Swedia, yang semakin memperburuk sektor ekspor, impor, serta stabilitas perdagangan domestik.
Pemulihan ekonomi secara bertahap mulai terlihat pada tahun 1818 dengan didirikannya Nationalbank sebagai lembaga keuangan swasta yang memperluas kredit bagi dunia usaha. Dari analisis Kabayan News, reformasi perbankan sentral tersebut menjadi titik balik penting dalam menyelamatkan Denmark dari keterpurukan ekonomi jangka panjang.