Rivian dan Lucid menghadapi jalur bisnis yang semakin berbeda setelah bertahun-tahun bersaing ketat sebagai startup kendaraan listrik paling menjanjikan di Amerika Serikat. Kedua perusahaan yang melantai di bursa pada tahun 2021 kini dihadapkan pada realitas pasar otomotif global yang menuntut efisiensi tinggi serta ketahanan finansial.
Rivian melangkah lebih dekat menuju pasar volume massal setelah memulai pengiriman crossover R2 dengan target pengiriman tahun ini mencapai 65 ribu hingga 70 ribu kendaraan. Kinerja keuangan Rivian menunjukkan perbaikan positif berkat pendapatan kuartal kedua yang mencapai US1,66miliarsertadukunganstrategisdarikerjasamateknologibersamaVolkswagenGroup.
Disisilain,LucidMotorsmengambillangkahdrastis1,4 miliar menyusul kerugian bersih yang melebihi US$1 miliar. CEO baru Lucid Silvio Napoli mengakui bahwa perusahaan sempat melakukan kesalahan eksekusi, peluncuran produk terburu-buru, serta kurangnya investasi pada sektor layanan pelanggan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLucid kini memilih untuk menunda peluncuran crossover Cosmos ke tahun 2027 agar produk tersebut matang di pasaran, sekaligus fokus pada proyek penting termasuk kerja sama robotaxi dengan Nuro dan Uber. Meskipun didukung suntikan dana besar dari Arab Saudi, Lucid harus berjuang keras memperbaiki penjualan produk mereka yang masih lambat di tengah persaingan ketat.
Strategi Berbeda Dua Raksasa EV Menghadapi Pasar
Perbedaan arah strategi antara kedua produsen ini berakar dari pilihan produk awal mereka sejak pertama kali terjun ke industri otomotif. Lucid memilih memulai debut dengan sedan mewah empat pintu berharga tinggi yang memiliki pangsa pasar terbatas, sementara Rivian langsung menyasar segmen truk pikap dan SUV premium.
Kecepatan peluncuran model baru juga menjadi pembeda utama di mana Rivian bergerak cepat memperkenalkan van komersial untuk Amazon serta SUV R1S. Sebaliknya, Lucid mengalami kendala peluncuran SUV Gravity akibat hambatan perangkat lunak yang memperlambat laju adopsi di pasar.
Meskipun Rivian berada di posisi lebih diuntungkan lewat gelontoran dana dari Volkswagen dan tingginya minat konsumen pada lini R2, tantangan besar tetap mengadang di depan. Pasar kendaraan listrik yang melemah tahun ini menuntut Rivian membuktikan kemampuan mereka dalam memperbesar skala produksi tanpa cacat kualitas.
Kedua perusahaan ini membuktikan bahwa bertahan hidup di industri kendaraan listrik membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi kelas atas. Perjalanan Rivian untuk memperluas skala dan upaya Lucid melakukan reset operasional sama-sama akan menentukan masa depan mereka di peta otomotif global.