Indonesia memiliki kekayaan laut melimpah,namun nilai ekonomi terserap masih sangat minim. Berdasarkan laporan yang diungkapkan 34 miliar per tahun. Sayangnya, baru sekitar lima persen dari total potensi tersebut yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh negara.
Presiden Prabowo menegaskan perlunya langkah konkret untuk merealisasikan potensi besar tersebut, salah satunya melalui modernisasi armada penangkapan ikan secara masif. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk menindak tegas praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing yang selama ini menggerus kekayaan laut nusantara.
Menanggapi rencana tersebut, Institute for Essential Services Reform (IESR) memberikan catatan penting. Menurut Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, modernisasi sektor kelautan tidak cukup hanya dengan menambah armada kapal, melainkan harus dibarengi dengan penguatan ketahanan energi di wilayah pesisir dan kepulauan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFabby menjelaskan bahwa rantai produksi perikanan modern sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. "Modernisasi sektor kelautan perlu dibarengi penguatan ketahanan energi di wilayah pesisir," tegasnya dikutip dari pernyataan resmi IESR.
Kebutuhan energi ini mencakup berbagai fasilitas vital seperti pelabuhan, tempat pelelangan ikan, mesin pendingin, hingga fasilitas cold storage. Tanpa akses listrik yang memadai, kualitas hasil tangkapan nelayan terancam menurun sebelum sampai ke tangan konsumen. Selain itu, ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tinggi juga memicu biaya operasional nelayan menjadi membengkak.
Sebagai solusi, IESR mendorong pemanfaatan energi terbarukan di kawasan pesisir sebagai penggerak ekonomi baru. Integrasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dinilai menjadi opsi strategis yang relevan. Mengutip kajian Solar Archipelago, penggunaan PLTS hingga 100 gigawatt (GW) berpotensi mendukung kegiatan produktif di sentra perikanan yang selama ini masih terkendala akses energi.
Dengan beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan terjangkau, pelaku usaha perikanan diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus meminimalisir emisi karbon. Langkah ini menjadi krusial agar peningkatan produksi perikanan tidak justru menciptakan beban ekonomi baru akibat lonjakan kebutuhan bahan bakar fosil.