Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Profil Buddhist Economics Pendekatan...
EKONOMI

Profil Buddhist Economics Pendekatan Spiritual dan Filosofis dalam Ilmu Ekonomi

By Asep Firdaus 3 min read 31 Agustus 2026
Buddhist economics sebagai pendekatan spiritual dan filosofis untuk mencapai kesejahteraan hidup yang berkelanjutan

Buddhist economics sebagai pendekatan spiritual dan filosofis untuk mencapai kesejahteraan hidup yang berkelanjutan

Buddhist economics merupakan pendekatan spiritual dan filosofis dalam mengkaji ilmu ekonomi yang meneliti aspek psikologis serta emosional di balik aktivitas ekonomi manusia. Aliran ini berupaya membedakan hal-hal yang membawa dampak buruk maupun manfaat dalam produksi serta konsumsi barang dan jasa. Tujuan utamanya adalah membimbing manusia agar matang secara etis dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Fitur paling mendasar dari sistem ini adalah pandangan bahwa manusia saling bergantung satu sama lain serta dengan alam sekitar. Konsep ini pertama kali diperkenalkan dan diterapkan dalam skala kenegaraan oleh Raja Ashoka pada masa India kuno melalui program kesejahteraan publik yang luas. Sementara itu, istilah modernnya dicetuskan oleh E.F. Schumacher pada tahun 1955.

Berbeda dari ekonomi konvensional yang kerap berpusat pada maksimalisasi keuntungan dan sifat mementingkan diri sendiri, ekonomi Buddhis berfokus pada maksimalisasi kesejahteraan dengan pemanfaatan sumber daya minimal. E.F. Schumacher sendiri terinspirasi oleh prinsip "Pekerjaan yang Benar" atau Right Livelihood yang menekankan pentingnya pekerjaan tanpa merugikan diri sendiri maupun pihak lain.

Hingga saat ini, konsep ekonomi Buddhis terus berkembang melalui berbagai pemikiran ekonom modern dan kebijakan negara, seperti konsep "Gross National Happiness" di Bhutan. Pendekatan ini menawarkan alternatif penting dalam menjawab tantangan krisis lingkungan, konsumerisme berlebihan, dan pencarian kualitas hidup yang bermakna.

Sejarah Berdirinya Perusahaan

Akar historis dari penerapan etika Buddhis dalam menjalankan perekonomian negara dapat ditelusuri kembali pada masa pemerintahan kaisar India, Ashoka, sekitar tahun 268 hingga 232 SM. Masa pemerintahan tersebut terkenal dengan program filantropis serta pembangunan fasilitas publik seperti rumah sakit, taman, dan suaka alam yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Istilah khusus "Buddhist economics" secara resmi dicetuskan oleh E.F. Schumacher pada tahun 1955 ketika ia melakukan perjalanan ke Burma sebagai konsultan ekonomi untuk Perdana Menteri U Nu. Gagasan tersebut kemudian dituangkan ke dalam esai berpengaruh yang diterbitkan pada tahun 1966 dan masuk dalam kumpulan esai terkenal Small Is Beautiful pada tahun 1973.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan langkah Raja Jigme Singye Wangchuck bersama pemerintah Bhutan yang mempromosikan konsep "Gross National Happiness" atau kebahagiaan nasional bruto sejak tahun 1972. Kebijakan ini menolak pengukuran pembangunan nasional yang hanya bergantung pada produk domestik bruto dan memilih berlandaskan nilai spiritual Buddhis.

Berbagai konferensi akademik internasional, seperti Konferensi Buddhist Economics Research Platform di Budapest dan Thailand, turut memperkuat legitimasi dan diskursus ilmiah mengenai sistem ekonomi alternatif ini di era kontemporer.

Perkembangan dan Inovasi

Dalam perkembangannya, ekonomi Buddhis menawarkan pandangan yang jauh berbeda mengenai fungsi pekerjaan bagi manusia. Pekerjaan tidak dipandang sebagai beban atau hal yang dihindari, melainkan sarana untuk mengembangkan potensi diri, mengatasi sifat egoistis melalui kerja sama, serta menghasilkan barang dan jasa yang esensial.

Para ekonom dalam aliran ini juga menolak pengukuran standar hidup yang hanya didasarkan pada tingkat konsumsi material. Mereka meyakini bahwa pencapaian kesejahteraan optimal dari konsumsi yang minimal jauh lebih bernilai daripada kebahagiaan semu yang lahir dari konsumsi maksimal.

Perhatian besar juga diberikan pada pengelolaan sumber daya alam, khususnya sumber daya yang tidak terbarukan. Pemanfaatan sumber daya secara berlebihan dianggap sebagai bentuk kekerasan yang bertentangan dengan prinsip kelestarian lingkungan dan keseimbangan hidup jangka panjang.

Melalui integrasi dengan pendekatan kapabilitas Amartya Sen dan prinsip keberlanjutan modern, para akademisi terus mengembangkan kerangka kerja ekonomi Buddhis guna menciptakan kemakmuran bersama yang melindungi bumi serta menjamin kualitas hidup tinggi bagi seluruh umat manusia.

Topics
ekonomi filsafat spiritual pembangunan berkelanjutan etika
Jurnalis Ekonomi & Bisnis

Asep Firdaus adalah jurnalis yang mengkhususkan diri dalam bidang ekonomi dan bisnis. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang dinamika pasar, kebijakan ekonomi, dan perkembangan industri, serta mampu menyajikannya dengan bahasa yang jelas dan mudah dicerna.