Ferry Irwandi lahir di Jambi pada 16 Desember 1991 dari pasangan perantau Minangkabau bernama Irwandi dan Rosma. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Titian Teras Jambi sebelum melanjutkan studi ke Politeknik Keuangan Negara STAN dan lulus pada 2013 dari program studi DIII Kebendaharaan Negara.
Sebelum fokus berkarier di dunia digital, ia sempat mengabdi sebagai pegawai negeri sipil fungsional di bidang hubungan masyarakat sebagai videografer pada Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan sejak 2012. Pada akhir 2022, ia memutuskan untuk mengundurkan diri agar dapat menekuni dunia konten kreatif secara penuh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamanya mulai mencuri perhatian publik secara luas setelah mengunggah video bertajuk Memahami Filsafat Stoikisme pada Januari 2022 serta tampil sebagai tamu dalam berbagai siniar ternama. Konten yang diusungnya mencakup pembahasan mendalam mengenai topik sosial, politik, keuangan, hingga filsafat.
Bersama sejumlah figur publik lain seperti Cania Citta dan Jerome Polin, ia mendirikan Malaka Project pada Oktober 2023. Proyek ini bertujuan membangun masyarakat baru melalui pendidikan berkualitas serta mendirikan Kampus Malaka yang terbuka bagi semua kalangan dengan sistem pembelajaran adaptif.
Jejak Kontroversi dan Sikap Kritis Ferry Irwandi
Selain aktif membagikan konten edukatif, ia kerap terlibat dalam berbagai perdebatan publik serta menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Ia berpartisipasi dalam gelombang unjuk rasa terkait isu-isu demokrasi dan penolakan terhadap perluasan keterlibatan militer dalam urusan sipil.
Namanya juga sempat menjadi perbincangan hangat ketika menantang klaim dunia mistis di media sosial serta menyoroti maraknya promosi judi daring oleh sejumlah pemengaruh digital. Sikap vokal tersebut sering memantik diskusi luas di berbagai platform media sosial.
Pada Juli 2025, ia sempat melontarkan wacana terkait relevansi jurusan filsafat di perguruan tinggi yang kemudian menuai tanggapan beragam dari berbagai kalangan pengamat pendidikan dan tokoh masyarakat.
Keterlibatannya dalam dunia hukum juga tercatat ketika ia hadir sebagai saksi meringankan dalam persidangan Khariq Anhar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, di mana ia menjelaskan pandangannya mengenai budaya meme dan satire di internet.