Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.027 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa sore setelah tertekan oleh dinamika pasar keuangan global. Mata uang Garuda tercatat turun 30 poin atau sekitar 0,17 persen jika dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan pelemahan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang kompak terperosok ke zona merah terhadap dolar AS. Tercatat peso Filipina melemah 0,41 persen, yen Jepang terkoreksi 0,38 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,28 persen, dolar Singapura turun 0,11 persen, serta dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAnalis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS pasca-rilis data aktivitas manufaktur Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar. Selain faktor tersebut, pasar juga dibayangi oleh kekhawatiran geopolitik global terkait ketidakpastian proses perdamaian di Timur Tengah.
Selain sentimen eksternal dari luar negeri, para pelaku pasar di dalam negeri kini sedang bersiap dan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 yang dijadwalkan bakal diumumkan esok hari dengan perkiraan melambat.
Faktor Pendorong Pelemahan Mata Uang Garuda
Tekanan eksternal yang menghantam rupiah tidak hanya berasal dari penguatan mata uang utama Paman Sam saja, tetapi juga dipicu oleh sentimen regional Asia yang mayoritas lesu. Hanya yuan China yang menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang berhasil mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang di negara-negara maju terpantau bervariasi sepanjang sesi perdagangan hari ini. Poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, serta franc Swiss bergerak di zona hijau, sedangkan euro Eropa terpantau stabil tanpa banyak perubahan berarti.
Ketidakpastian geopolitik internasional turut memberikan tambahan tekanan psikologis bagi para investor di pasar keuangan domestik. Pernyataan yang saling bertolak belakang terkait rencana pembicaraan damai di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih langkah antisipatif.
Fokus perhatian investor kini beralih sepenuhnya pada rilis data resmi pertumbuhan ekonomi domestik untuk periode kuartal II 2026. Angka pertumbuhan tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.