Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / OnePlus 15 Ludes di AS, Akhir...
INTERNASIONAL

OnePlus 15 Ludes di AS, Akhir Perjalanan Merek Smartphone Ini

By Dewi Lestari • 2 min read • 3 Agustus 2026
OnePlus 15 ludes terjual di Amerika Serikat setelah penutupan operasional

OnePlus 15 ludes terjual di Amerika Serikat setelah penutupan operasional

OnePlus 15 ludes terjual di pasaran Amerika Serikat menyusul pengumuman resmi perusahaan yang menutup seluruh operasional bisnisnya di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan dari sejumlah pengamat teknologi, sisa inventaris yang sebelumnya masih tersisa di situs resmi OnePlus.com kini telah benar-benar habis tak bersisa tanpa ada rencana restock dari pihak produsen.

Keputusan penutupan ini sebenarnya telah diumumkan sejak bulan Juli lalu, di mana manajemen memutuskan untuk menghentikan operasional di beberapa pasar utama termasuk Amerika Serikat, Britania Raya, dan Eropa. Meskipun pihak perusahaan sempat menyatakan bahwa perangkat yang ada masih akan dibiarkan tersedia hingga habis, kenyataannya persediaan tersebut lenyap jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Dari hasil analisis tim redaksi melalui pantauan langsung di situs penjualan resmi, varian warna seperti Infinite Black dan Sand Storm untuk konfigurasi penyimpanan 12/256GB maupun 16/512GB sudah tidak dapat ditemukan lagi. Nasib serupa juga dialami oleh lini produk pendukung lainnya seperti OnePlus 15R, OnePlus Pad Go 2, hingga OnePlus Watch 4 yang kini berstatus kosong.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sejauh ini hanya tersisa beberapa aksesori audio seperti OnePlus Buds Pro 3 dan OnePlus Nord Buds 3 Pro yang masih terpantau tersedia di toko online resmi. Sementara itu, bagi konsumen yang masih memburu unit ponsel pintar ini, beberapa e-commerce pihak ketiga seperti Amazon masih mencatat adanya sisa stok terbatas meskipun diprediksi bakal segera ludes dalam waktu dekat.

Topics
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.