Hyperinflation melanda Papiermark Jerman sebagai mata uang resmi Weimar Republic antara tahun 1921 hingga 1923, dengan puncak kehancuran terjadi pada 1923. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, mata uang Jerman mengalami inflasi masif selama Perang Dunia I karena pemerintah memilih membiayai perang melalui utang ketimbang menarik pajak.
Keputusan Kaisar Wilhelm II bersama Reichstag untuk menghindari pajak baru didasari keyakinan bahwa Jerman akan memenangkan perang dan mampu membebankan biaya reparasi kepada pihak Sekutu. Sebagaimana dilaporkan dalam literatur sejarah, utang nasional Jerman melonjak hingga mencapai 156 miliar mark pada 1918.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeStrategi tersebut berbalik menjadi bencana ketika Jerman kalah perang, meninggalkan Weimar Republic dengan beban utang raksasa serta kewajiban pembayaran reparasi yang diatur dalam Perjanjian Versailles. Pemerintah terpaksa mencetak uang tanpa sokongan sumber daya ekonomi memadai demi menutupi defisit anggaran yang menggunung.
Dari analisis Kabayan News, langkah Presiden Reichsbank Rudolf Havenstein pada Agustus 1921 yang memborong mata uang asing menggunakan mark tanpa memperhitungkan inflasi justru mempercepat kejatuhan ekonomi. Nilai tukar mark merosot drastis dari 320 mark per dolar AS pada pertengahan 1922 hingga mencapai 7.400 mark per dolar pada Desember tahun yang sama.
Krisis semakin tak terkendali ketika pasukan Prancis dan Belgia menduduki wilayah industri Ruhr pada Januari 1923 setelah Jerman gagal membayar reparasi batu bara. Pemerintah merespons lewat kebijakan perlawanan pasif, mencetak lebih banyak uang untuk menggaji para pekerja mogok, hingga akhirnya satu dolar AS bernilai 4,21 triliun mark pada November 1923.