Sistem Bretton Woods menetapkan aturan hubungan komersial serta moneter di antara 44 negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa, hingga Australia, sejak disepakati pada tahun 1944 hingga berakhir melalui Perjanjian Jamaika pada tahun 1976. Berdasarkan analisis sejarah ekonomi, tatanan tersebut menjadi contoh pertama dari tatanan moneter yang dinegosiasikan secara penuh guna mengelola kestabilan ekonomi antarnegara merdeka.
Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, delegasi dari 44 negara Sekutu berkumpul di Mount Washington Hotel di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat, guna mengikuti Konferensi Moneter dan Keuangan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli 1944. Konferensi tersebut berhasil melahirkan lembaga penting dunia seperti Dana Moneter Internasional atau IMF serta Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan yang kini menjadi bagian dari Grup Bank Dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan sejarah keuangan, sistem ini mengharuskan setiap negara menjamin keterubukan mata uang mereka terhadap dolar AS, sementara dolar AS sendiri dijamin dapat ditukar dengan emas murni oleh bank sentral negara asing. Kebijakan tersebut dirancang agar dunia terhindar dari krisis ekonomi berulang seperti Depresi Besar yang dipicu oleh kebijakan proteksionisme serta devaluasi kompetitif pada dekade 1930-an.
Kendati demikian, pengamatan menunjukkan bahwa ketergantungan penuh pada dolar AS memberikan keistimewaan besar bagi Amerika Serikat sekaligus membatasi ruang gerak kebijakan moneter negara lain dalam menghadapi inflasi. Keruntuhan sistem ini resmi terjadi pada 15 Agustus 1971 ketika Amerika Serikat menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas, yang kemudian mengubah dolar menjadi mata uang fiat sepenuhnya.