Harga minyak mentah dunia anjlok di bawah USD100 per barel pada perdagangan awal pekan ini setelah investor menaruh harapan tinggi pada pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz. Berdasarkan pantauan tim redaksi, penurunan tajam ini dipicu oleh sinyal positif dari Washington dan Teheran yang dikabarkan semakin dekat dengan pencapaian kesepakatan damai.
Kontrak berjangka minyak mentah internasional Brent serta West Texas Intermediate kompak merosot lebih dari lima persen di tengah sesi perdagangan Eropa. Sentimen negatif bagi pasar energi ini justru menjadi angin segar bagi bursa saham global yang langsung merespons positif perkembangan geopolitik di Timur Tengah tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeluang tercapainya kesepakatan diplomatik ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat melakukan kunjungan kerja di New Delhi. Keterangan tersebut menyusul pengakuan Presiden Donald Trump yang menyebutkan bahwa proses negosiasi berjalan secara terstruktur dan konstruktif, meski ia tetap meminta para negosiator agar tidak terburu-buru mengambil keputusan final.
Berdasarkan analisis awak media, para pelaku pasar kini berspekulasi bahwa pemerintahan Trump sangat berambisi segera mendeklarasikan kesepakatan guna memulihkan lalu lintas kapal tanker di Teluk. Langkah ini dinilai krusial demi meredam lonjakan harga bahan bakar menjelang musim liburan musim panas yang biasanya mendongkrak tingkat konsumsi energi.
Menurut laporan dari Chris Weston selaku kepala riset di Pepperstone, memorandum of understanding atau nota kesepahaman antarkedua belah pihak dilaporkan telah sebagian besar dinegosiasikan. Detail resmi terkait kesepakatan tersebut kabarnya bakal segera diumumkan dalam waktu dekat kepada publik luas.
Prospek meredanya ketegangan geopolitik ini seketika mendongkrak bursa saham di kawasan Asia secara serentak. Indeks Nikkei di Tokyo mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,9 persen dan berhasil menembus level 65.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan.
Sementara itu, aktivitas perdagangan di bursa Eropa terpantau cukup semarak meskipun volumenya cenderung tipis akibat libur nasional di sejumlah negara kawasan tersebut. Di sisi lain, bursa utama seperti London Stock Exchange dan Wall Street di Amerika Serikat harus tutup sementara untuk memperingati hari libur nasional.
Kendati tekanan di sektor energi mulai mengendur, para investor global tetap mewaspadai rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat terbaru serta respons dari bank sentral Federal Reserve di bawah kepemimpinan baru Kevin Warsh. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari konflik sebelumnya masih berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga ke depan.