Ruhollah Mostafavi Khomeini lahir di kota Khomeyn, provinsi Markazi, Iran, pada 17 Mei 1900 dan kemudian tumbuh menjadi tokoh sentral dunia Islam modern. Berdasarkan catatan sejarah, masa kecil Khomeini diwarnai tragedi setelah ayahnya dibunuh saat usianya baru menginjak dua tahun. Praktis, pengasuhan masa kecilnya dilanjutkan oleh ibu serta bibinya di tengah lingkungan keluarga yang lekat dengan tradisi keagamaan.
Perjalanan intelektual Khomeini dimulai sejak usia dini dengan mempelajari Alquran dan bahasa Arab di bawah bimbingan kerabat dekatnya. Beranjak dewasa, ia memperdalam ilmu agama di seminari Islam kota Arak sebelum akhirnya pindah ke Qom. Di pusat pendidikan tersebut, ia tidak hanya menguasai hukum Islam dan yurisprudensi, melainkan juga mendalami filsafat serta sastra yang kemudian membentuk landasan pemikiran politiknya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNama Ruhollah Khomeini melonjak ke panggung politik global setelah memimpin Revolusi Iran yang sukses meruntuhkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979. Peristiwa besar itu sekaligus mengakhiri era monarki Pahlavi dan mengubah sistem pemerintahan Iran menjadi republik Islam. Melalui kebijakan serta teori politiknya yang dikenal luas sebagai Khomeinism, ia memegang kendali penuh sebagai pemimpin tertinggi negara hingga akhir hayatnya pada 1989.
Dari analisis awak media, figur Khomeini mencatatkan warisan sejarah yang sangat kontroversial di kancah internasional maupun domestik. Sebagian kalangan memandangnya sebagai simbol kebangkitan Islam serta perlawanan terhadap imperialisme asing. Namun di sisi lain, kebijakan rezimnya kerap menuai kecaman tajam terkait berbagai pelanggaran hak asasi manusia serta retorika politik yang keras terhadap dunia Barat.