Militer Amerika Serikat dan Iran saling serang di Selat Hormuz pada hari Minggu setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap dua peluncur rudal di Pulau Larak. Bentrokan bersenjata ini menandai eskalasi baru dalam ketegangan militer di jalur maritim strategis Teluk Persia.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan bahwa serangan pertama pasukan Amerika Serikat tersebut menewaskan dua orang dan melukai dua orang lainnya. Pihak IRGC juga mengklaim telah berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak milik militer Amerika Serikat di atas perairan Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat menyebutkan bahwa pihaknya telah mengambil tindakan terbatas dan terukur terhadap kekuatan penebar ranjau yang dinilai menimbulkan ancaman langsung di kawasan tersebut. Namun, pihak militer Amerika Serikat tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai operasi penyerangan itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagai bentuk balasan, Iran melancarkan serangan terhadap basis militer Amerika Serikat di Yordania yang, menurut laporan media pemerintah, memicu intersepsi delapan misil oleh tentara Yordania pada Senin pagi. Pasukan Garda Revolusi Iran menegaskan akan memberikan hukuman setimpal atas tindakan agresi tersebut.
Dampak Eskalasi Militer dan Sanksi Ekonomi Baru
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan melalui media sosial mengenai situasi di Pulau Kharg yang menjadi pusat energi penting bagi Iran. Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut dinilai mampu melumpuhkan sebagian besar ekspor minyak Iran yang selama ini menopang perekonomian negara tersebut.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyampaikan bahwa pemerintahannya akan terus memberlakukan sanksi ekonomi sekunder baru setiap pekan dengan fokus awal menyasar sektor perbankan. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan institusi keuangan yang kedapatan memfasilitasi transaksi dana milik pemerintah Iran.
Di tengah ancaman keamanan yang meningkat di jalur pelayaran internasional, jumlah kapal komersial yang terpantau melintasi Selat Hormuz dilaporkan merosot tajam menjadi hanya lima kapal per hari selama akhir pekan. Sejumlah kapal komersial memilih mematikan sistem identifikasi otomatis demi menghindari potensi serangan susulan di wilayah tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menegaskan bahwa perairan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas maritim internasional setelah upaya pembersihan ranjau laut dilakukan. Di sisi lain, angkatan laut Garda Revolusi Iran bersikeras bahwa jalur pelayaran tersebut tetap berada di bawah kendali ketat mereka.