Sebagaimana diwartakan oleh media CNN Türk, Amerika Serikat mengalihkan strategi militernya menuju tekanan ekonomi untuk menekan pemerintah Iran setelah berbagai serangan militer dinilai gagal mencapai target. Washington memperketat sanksi dan blokade yang membuat perdagangan luar negeri Iran merosot hingga 35 persen, sementara inflasi tahunan melonjak tajam menyentuh angka 66 persen.
Berdasarkan laporan media tersebut, situasi pelik ini memaksa para petinggi Iran untuk terbuka mengakui dampak berat dari sanksi internasional yang dijatuhkan. Presiden Iran Mesud Pezezkian dalam pernyataannya menegaskan bahwa negara kini berada dalam situasi perang ekonomi dan seluruh pihak harus beradaptasi dengan kondisi tersebut.
"Bazıları yaptırımların hiçbir etkisi olmadığını söylüyor. Bu insanlara ne diyeceğimi gerçekten bilmiyorum. Savaş halindeyiz. Bu savaş koşullarını kabul etmeliyiz," ujar Pezezkian sebagaimana diterjemahkan dan diberitakan oleh media.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSenada dengan presiden, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya mengandalkan ekonomi perlawanan dan produksi domestik untuk mengatasi berbagai masalah struktural. Dalam pesannya, Khamenei juga memperingatkan agar tidak ada pihak yang memicu perpecahan sosial yang justru dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh negara.
Di tengah himpitan ekonomi yang kian parah, kekhawatiran akan munculnya gelombang demonstrasi baru semakin menguat di kalangan masyarakat. Sejumlah warga di Teheran menyatakan bahwa kesulitan hidup dan masa depan yang tidak pasti membuat aksi protes massal sulit untuk dihindari.
"Ekonomik bir ayaklanmayı hiçbir şey durduramaz. Savaş da şiddet de durduramaz," ungkap Esmail, seorang seniman berusia 37 tahun yang tinggal di Teheran, menggambarkan keputusasaan warga menghadapi lonjakan harga dan krisis yang belum mereda.