Senator Amerika Serikat Bernie Sanders melontarkan kritik keras kepada Presiden Donald Trump terkait usulan kontroversial untuk mengganti nama Selat Hormuz menggunakan namanya sendiri. Sanders menegaskan bahwa masyarakat Amerika Serikat saat ini lebih menginginkan sang presiden untuk fokus mengakhiri konflik di Iran daripada sibuk mengganti nama jalur perairan strategis yang telah ada sejak berabad-abad lalu.
"Anda adalah Presiden, bukan mad king. Bertindaklah seperti itu," ujar Sanders dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, menyoroti eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak global sebesar 15 persen.
Kritikan dengan istilah mad king tersebut merujuk pada sejarah Raja George III dari Inggris pada abad ke-18 yang menolak berkompromi dengan koloni-koloni Amerika hingga akhirnya berujung pada kekalahan telak dan pengakuan kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1783. Sejarawan Amerika Rick Atkinson bahkan menilai bahwa kepemimpinan George III masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan gaya politik Donald Trump saat ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSanders menekankan bahwa dalam situasi krisis global saat ini, prioritas utama seorang kepala negara seharusnya adalah meredakan ketegangan dan menghentikan perang, bukan memamerkan kekuasaan personal. Kebijakan luar negeri berbasis tekanan maksimum dinilai hanya akan mengulangi kesalahan sejarah di mana kekuatan militer gagal menghasilkan solusi politik yang berkelanjutan.
Peringatan Batas Kekuasaan Presiden Amerika Serikat
Peringatan keras yang disampaikan oleh Bernie Sanders bukan sekadar serangan verbal politik semata, melainkan pengingat fundamental mengenai batasan kekuasaan eksekutif dalam sistem republik konstitusional Amerika Serikat yang anti terhadap absolutisme monarki.
Sejarah revolusi Amerika yang terbentuk 250 tahun lalu didirikan atas dasar prinsip pembatasan kekuasaan, di mana seorang presiden tidak boleh bertindak layaknya raja absolut yang sewenang-wenang dalam mengendalikan kebijakan luar negeri dan keamanan internasional.
Kritik tersebut juga menyoroti bahaya penggunaan ancaman militer dan unjuk kekuatan secara berlebihan yang kerap dilakukan pemerintahan Trump dalam menghadapi berbagai krisis internasional di berbagai belahan dunia sepanjang tahun 2026 ini.
Melalui pernyataan tersebut, Sanders ingin menyampaikan pesan bahwa diplomasi dan politik harus dikedepankan di atas ambisi personal, sebab sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan terbesar sekalipun dapat runtuh akibat pengabaian terhadap solusi perdamaian.