Aktivitas pelayaran di Strait of Hormuz terpantau melambat drastis menyusul serangkaian serangan terhadap kapal komersial dan meningkatnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.
Berdasarkan data dari penyedia intelijen pasar Kpler, pergerakan kapal yang melintasi jalur perairan strategis ini berada di titik terendah akibat kekhawatiran awak kapal yang semakin memuncak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari analisis awak media, situasi ini mencerminkan kerentanan jalur pasokan energi global terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Sebagaimana dilaporkan, beberapa kapal memilih untuk mematikan transponder mereka saat melintasi kawasan rawan tersebut guna menghindari potensi ancaman militer.
Sebuah supertanker minyak bernama Egypt Prosperity dilaporkan sempat membatalkan niatnya untuk keluar dari Persian Gulf setelah menerima ancaman langsung melalui radio.
Menurut laporan keamanan maritim yang beredar, awak kapal tersebut bahkan mengaku sempat mendengar suara ledakan di sekitar lokasi kejadian.
Meskipun demikian, pengiriman minyak mentah dilaporkan masih tetap berjalan melalui taktik pengiriman secara sembunyi-sembunyi oleh sejumlah operator kapal.
Data dari Vortexa menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker berukuran raksasa tetap nekat menyeberang demi mengangkut kargo dari negara-negara produsen utama seperti Irak dan Uni Emirat Arab.