Sembahyang sering kali dianggap sebagai rutinitas belaka oleh sebagian orang di tengah kesibukan hidup modern. Namun, dalam ajaran agama Hindu, praktik ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam sebagai wujud penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan.
Sebagaimana diwartakan dalam siaran program Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Luh Putu Parwati, menegaskan bahwa sembahyang merupakan jembatan antara manusia dengan Sang Pencipta.
Menurut Parwati, tujuan utama dari sembahyang atau puja adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hal ini selaras dengan konsep Tri Kaya Parisudha yang menjadi landasan perilaku umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Sembahyang bukanlah rutinitas kosong, ia adalah wujud hidup spiritual, pintu masuk untuk mengenal Tuhan dan jembatan antara manusia dengan alam semesta," ujar Parwati dalam sesi dialog tersebut.
Ia menambahkan bahwa nilai dari sebuah persembahan tidak diukur dari kemewahan sarana yang digunakan, melainkan dari ketulusan dan kesadaran hati orang yang mempersembahkannya. Bahkan, lima menit yang dilakukan dengan tulus jauh lebih bernilai dibandingkan satu jam sembahyang tanpa konsentrasi.
Lebih lanjut, Parwati menjelaskan bahwa sembahyang merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dalam konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan manusia dengan Tuhan atau Parahyangan. Praktik ini diharapkan mampu membawa kedamaian batin serta keselarasan bagi individu, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Sebagai penutup, ia mengajak umat Hindu untuk memulai praktik sembahyang dari hal sederhana, seperti meluangkan waktu sejenak untuk duduk tenang dan memanjatkan syukur. Baginya, esensi dari sembahyang terletak pada keheningan hati yang suci, bukan pada kemegahan seremonial belaka.