Dunia seni rupa kembali dimeriahkan oleh pameran bertajuk "Satu Akar, Tiga Bahasa" yang digelar oleh Linggar Bersaudara di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Selatan, sebagaimana diwartakan dalam laporan media. Pameran yang melibatkan seniman Josephine Linggar, Agnes Linggar, dan Richard Linggar ini tidak hanya menampilkan karya lukis, tetapi juga menghadirkan workshop interaktif melukis di atas kain bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, kegiatan ini menjadi istimewa karena memperkenalkan teknik batik dingin menggunakan gutta tamarind. Bahan perintang warna alami ini berbentuk pasta dan terbuat dari biji asam jawa yang dihaluskan, berfungsi sebagai pengganti malam atau lilin panas sekaligus mengusung konsep berkarya yang lebih berkelanjutan.
Sebelum memulai proses melukis, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat garis pembatas atau border line pada kain. Menurut keterangan Ariesa Pandanwangi selaku Guru Besar Ilmu Seni, Desain, dan Media Universitas Kristen Maranatha, pembuatan bingkai pembatas ini sangat penting agar pola gambar tetap rapi dan tidak keluar dari area yang ditentukan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSetelah garis pembatas selesai, peserta dapat langsung menggambar pola sesuai kreativitas masing-masing, mulai dari motif floral hingga gambar figuratif. Tahap berikutnya adalah mengaplikasikan gutta tamarind mengikuti setiap garis pola gambar yang telah dibuat untuk mencegah warna merembes.
Dalam proses aplikasinya, ketelitian menjadi kunci utama agar tidak ada bagian yang terlewat. Sebagaimana dijelaskan Ayoeningsih Dyah Woelandhary selaku Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Paramadina, "Mengaplikasikan gutta tamarind pada pola gambar harus dilakukan dengan teliti dan tidak boleh ada celah sedikit pun karena dapat menyebabkan warna bocor."
Setelah pasta perintang diaplikasikan secara menyeluruh, tahap selanjutnya adalah mengeringkannya hingga sempurna sebelum proses pewarnaan dimulai. Pewarnaan kain dilakukan menggunakan teknik wet on wet, yaitu membasahi permukaan kain terlebih dahulu agar warna dapat menyebar dan bercampur secara halus.
Sebagai tahap akhir, kain yang telah diberi warna harus dikeringkan kembali sebelum gutta tamarind dibersihkan dari permukaannya. Mengutip laporan terkait, pembersihan bahan perintang ini akan memperlihatkan garis dan bidang warna secara jelas, menghasilkan karya seni kain yang indah serta ramah lingkungan.