Catatan mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi di kepulauan antara Benua Asia dan Benua Australia sebelum berdirinya Republik Indonesia dikenal sebagai sejarah Nusantara. Wilayah daratan Nusantara terbentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum, yang kemudian bergerak mendekat dan membentuk selat besar antara Paparan Sunda di barat serta Paparan Sahul di timur.
Pertemuan Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di selatan, dan Lempeng Pasifik di timur laut menjadikan kawasan ini sebagai daerah vulkanik aktif yang kaya mineral. Situasi geografi tropika dengan laut hangat serta arus laut yang kaya sumber daya turut membentuk ekosistem dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari sudut persebaran makhluk hidup, wilayah ini menjadi titik pertemuan dua provinsi flora dan tipe fauna yang berbeda akibat proses evolusi terpisah. Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa tapak di Jawa menunjukkan kemungkinan kontinuitas populasi dari 1,7 juta tahun hingga 50.000 tahun yang lalu.
Migrasi manusia modern masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara 70.000 dan 60.000 tahun yang lalu. Masyarakat berfenotipe Austrolomelanesoid memasuki kawasan Paparan Sunda dan bergerak ke timur sebagai pendukung kultur Paleolitikum yang hidup meramu.
Zaman Kolonial dan Perjanjian Perdagangan
Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal, dan persenjataan memungkinkan mereka melakukan ekspedisi eksplorasi serta ekspansi. Bangsa Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang tiba di kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia untuk menguasai sumber rempah-rempah berharga.
Pada awal abad ke-16, pelabuhan perdagangan penting di pantai utara Pulau Jawa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak. Raja Sunda Sri Baduga atau Prabu Siliwangi kemudian mencari bantuan kepada Portugis untuk menjamin kelangsungan pelabuhan utama kerajaan dari pengaruh Demak.
Utusan raja Sunda yaitu putra mahkota Surawisesa dikirim ke Malaka pada tahun 1512 dan 1521 untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang lada serta memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa.
Pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda pada tahun 1522 untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Komandan benteng Malaka saat itu mengirim kapal di bawah komandan Kapten Enrique Leme ke Sunda Kelapa beserta barang berharga.