Chuseok adalah perayaan festival panen raya terbesar di Korea Selatan yang jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender lunisolar saat bulan purnama bersinar terang. Festival penting ini dirayakan masyarakat Korea sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil panen sekaligus momen untuk mengenang jasa para leluhur.
Perayaan tradisional ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut di Korea Selatan, mencakup hari sebelum dan sesudah bulan purnama. Jutaan warga di sana berbondong-bondong meninggalkan kota besar untuk pulang ke kampung halaman demi berkumpul bersama keluarga tercinta.
Banyak tradisi unik yang melekat erat pada momen libur nasional tersebut, mulai dari ritual penghormatan di rumah hingga kunjungan ke makam leluhur. Suasana hangat ini menjadikan Chuseok sebagai salah satu waktu paling dinantikan setiap tahunnya oleh seluruh masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerbagai persiapan matang dilakukan jauh-jauh hari, mulai dari tiket transportasi yang ludes terjual hingga persiapan hidangan spesial. Seluruh aktivitas perkantoran, bank, hingga pertokoan tutup sementara agar warga bisa menikmati liburan dengan tenang.
Tradisi Unik dan Kuliner Khas Selama Perayaan Chuseok
Masyarakat Korea menjalankan ritual Charye dan Seongmyo sebagai bagian utama dari rangkaian perayaan Chuseok. Ritual Charye merupakan kegiatan mempersembahkan makanan hasil panen terbaik kepada arwah leluhur di rumah masing-masing.
Selain ritual keagamaan dan penghormatan, perayaan ini selalu dimeriahkan dengan hidangan kue beras tradisional bernama songpyeon. Kue beras berbentuk setengah bulan ini dibuat dengan berbagai isian manis dan dikukus di atas lapisan daun pinus segar.
Berbagai permainan rakyat warisan leluhur turut dimainkan untuk memeriahkan suasana kebersamaan musim gugur. Mulai dari tarian tradisional Ganggangsullae hingga pertandingan gulat rakyat Ssireum menjadi tontonan menarik di berbagai daerah.
Perbedaan cara merayakan juga terlihat jelas di Korea Utara, di mana warga di sana menghadapi berbagai kendala ekonomi dan transportasi. Kendati demikian, esensi kebersamaan dan rasa syukur tetap menjadi fondasi utama dari perayaan tradisional lintas generasi ini.