Bahasa Sunda Priangan ditetapkan sebagai bentuk baku bahasa Sunda yang paling banyak dituturkan serta mendominasi berbagai lini kehidupan masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan laporan ensiklopedia terkait, varietas utama ini mencakup wilayah eks-Keresidenan Parahyangan dan digunakan secara resmi dalam bidang literatur, media massa, instansi pemerintahan, hingga dunia pendidikan.
Dari analisis awak media, eksistensi dialek Priangan ini tidak lepas dari peran historis masa pemerintahan Kolonial Belanda ketika Bandung dijadikan pusat kekuasaan dan kebudayaan. Pemerintah kolonial kemudian melakukan pembakuan bahasa Sunda pada tahun 1872 yang berpedoman pada ragam bahasa lokal di Bandung dan sekitarnya untuk digunakan oleh kalangan menak pribumi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerkembangan bahasa Sunda Priangan kemudian meluas ke berbagai daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, hingga Ciamis dan Pangandaran. Meskipun memiliki beberapa variasi kosakata khas di setiap daerah, secara geografis dialek ini terbagi menjadi klaster pegunungan dan pesisir selatan dengan tetap mempertahankan akar keseragaman bakunya.
Dalam perjalanannya sebagai bahasa yang dinamis, ragam baku ini juga banyak menyerap unsur leksikal dari berbagai bahasa asing seperti Arab, Melayu, Inggris, Belanda, hingga Sanskerta. Tim redaksi mencatat bahwa penyerapan tersebut memperkaya khazanah kosakata yang digunakan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari masyarakat Sunda.