Kedaton Kutai Kartanegara berdiri megah di pusat Kota Tenggarong, Kalimantan Timur, sebagai istana resmi milik Sultan Kutai Kartanegara. Bangunan ini selesai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2002 menyusul dihidupkannya kembali tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura.
Fungsi utama bangunan ini lebih diarahkan sebagai pusat kegiatan lembaga kesultanan serta lokasi penyelenggaraan berbagai acara seremonial penting. Meski demikian, keberadaan istana baru ini menjadi penanda kuat atas eksistensi warisan budaya kerajaan nusantara di tanah Kalimantan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeGaya arsitektur Kedaton Kutai Kartanegara menampilkan perpaduan harmonis antara sentuhan modern dan bentuk istana tradisional Kerajaan Kutai Kartanegara. Bagian interior ruangan tampak mewah berkat kehadiran tatanan Singgasana Sultan yang dikelilingi kursi berlapis emas serta Gamelan Jawa di sisi sebelah kiri.
Nuansa akulturasi budaya terlihat jelas melalui berbagai ornamen ukiran khas adat Kutai, Dayak, dan Jawa di dalam ruangan istana. Unsur seni tersebut merefleksikan kedekatan historis antara Kesultanan Kutai Kartanegara dengan suku Dayak serta kerajaan-kerajaan besar di pulau Jawa.
Sejarah Perpindahan Pusat Pemerintahan Kesultanan Kutai
Perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara mencatat beberapa kali perpindahan pusat pemerintahan sebelum menetap di kawasan Tenggarong. Perpindahan tersebut bermula dari wilayah Kutai Lama menuju Pemarangan pada tahun 1732, sebelum akhirnya bergeser ke Tenggarong pada masa kepemimpinan Aji Sultan Muhammad Sulaiman.
Pembangunan keraton historis sebelumnya sempat dilakukan oleh Aji Sultan Muhammad Parikesit pada tahun 1936 dengan menggandeng perusahaan konstruksi Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij. Kompleks bangunan lama tersebut kini telah dialihfungsikan menjadi Museum Mulawarman di bawah pengelolaan pemerintah daerah.
Kebangkitan kembali struktur kesultanan ditandai dengan penobatan Putra Mahkota H. Pangeran Praboe Anum Surya Adiningrat sebagai Raja HAM Salehuddin II pada bulan September 2001. Langkah ini mendorong pemerintah daerah mendirikan bangunan keraton baru tepat di samping Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin.
Desain arsitektur keraton baru tersebut merujuk langsung pada bentuk kejayaan keraton masa pemerintahan Aji Sultan Muhammad Alimuddin. Kehadirannya kini memperkaya khazanah wisata sejarah sekaligus melestarikan tradisi luhur kesultanan di Kalimantan Timur.