Istano Silinduang Bulan merupakan istana bersejarah yang terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kompleks bangunan ini menjadi simbol penting kekuasaan Kerajaan Pagaruyung sekaligus pusat adat bagi masyarakat setempat.
Nama Silinduang Bulan disematkan pada Istana Raja Pagaruyung setelah pemindahan lokasi dari Ulak Tanjuang Bungo ke Balai Janggo pada tahun 1550 oleh Raja Gamuyang Sultan Bakilap Alam. Kepindahan tersebut juga menandai momen resmi pemberlakuan syariat Islam di kerajaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan sejarah bangunan ini diwarnai berbagai peristiwa penting, mulai dari pembangunan kembali pada tahun 1750 akibat usia bangunan hingga kehancuran saat Perang Padri pada 1821. Istana ini kemudian dibangun ulang pada 1869 oleh Puti Reno Sumpu.
Dalam catatan sejarah berikutnya, bangunan sempat mengalami insiden pembakaran oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1961 sebelum akhirnya direkonstruksi kembali. Proses pembangunan ulang terus berlanjut hingga diresmikan pada penghujung dekade 1980-an.
Kekayaan Motif Ukiran Tradisional Minangkabau
Bentuk arsitektur istana mengusung model rumah gadang alang babega yang menjadi ciri khas kediaman seorang raja. Di halaman depan berdiri dua bangunan rangkiang bernama Si Bayau-bayau dan Si Tinjau Lauik.
Tata ruang interior didukung oleh total 52 tiang penyangga dengan fungsi berbeda di setiap barisannya, serta keberadaan Anjung Emas dan Anjung Perak sebagai tempat tahta raja dan permaisuri.
Bagian eksterior maupun interior bangunan dihiasi oleh lebih dari 200 macam motif ukiran tradisional khas Minangkabau. Ragam hias tersebut mendominasi seluruh sisi bangunan sebagai representasi pusat adat.
Beberapa motif populer yang menghiasi dinding meliputi pucuak rabuang, aka cino, hingga siriah gadang. Pemilihan warna didominasi kombinasi merah, kuning, hitam, serta sentuhan warna perak dan emas.