Kabayan News Kabayan News
/home / nasional / Profil Suku Bawean, Etnis Unik...
NASIONAL

Profil Suku Bawean, Etnis Unik Perantau Ulung Nusantara

By Septy Nusaira Gehntari 2 min read 2 September 2026
Profil Suku Bawean, etnis perantau ulung asal Jawa Timur

Profil Suku Bawean, etnis perantau ulung asal Jawa Timur

Suku Bawean atau yang juga dikenal dengan sebutan Bhebien dan Boyan merupakan salah satu etnis khas yang mendiami Pulau Bawean di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Etnis ini terbentuk dari proses percampuran antara orang Madura, Jawa, Bugis, dan Makassar yang terjadi selama ratusan tahun di pulau tersebut.

Secara geografis, Pulau Bawean terletak di Laut Jawa di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa, atau sekitar 80 mil ke arah utara Kota Surabaya, dan masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Gresik. Pulau ini secara administratif terdiri atas dua kecamatan, yakni Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak.

Berdasarkan catatan sejarah, masyarakat Suku Bawean telah lama dikenal memiliki tradisi merantau sejak abad ke-15 dan 16 ke Bandar Malaka dan sekitarnya untuk alasan ekonomi. Pada tahun 1849, jumlah orang Bawean di Singapura tercatat sebanyak 763 orang dan terus bertambah hingga mencapai 22.167 jiwa pada tahun 1957.

Selain di Malaysia dan Singapura, persebaran masyarakat Bawean juga menjangkau negara Vietnam dan Australia. Di Vietnam, populasi keturunan Bawean di Kota Ho Chi Minh tercatat sekitar 400 orang pada tahun 2015, sementara di Australia diperkirakan terdapat tidak kurang dari 500 keturunan.

Tradisi Unik dan Kekayaan Budaya Suku Bawean

Dalam aspek kebudayaan, masyarakat Suku Bawean memiliki berbagai tradisi khas yang dilestarikan turun-temurun, seperti Kercengan atau Hadrah yang biasanya dipersembahkan sewaktu acara perkawinan. Kesenian ini menampilkan tabuhan kompang dan lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW oleh kelompok laki-laki maupun perempuan.

Tradisi lainnya yang masih dijaga adalah upacara Cukur Jambul bagi bayi yang telah genap berusia 40 hari dengan diiringi pembacaan berzanji. Selain itu, terdapat pula kesenian Pencak Bawean yang mengutamakan keindahan langkah dengan memainkan pedang dalam berbagai acara hari besar.

Kehidupan sosial masyarakat di Pulau Bawean juga memiliki keunikan tersendiri, salah satunya terlihat di Desa Diponggo. Berbeda dari mayoritas penduduk pulau yang menggunakan dialek bahasa Madura atau bahasa Bawean, masyarakat Diponggo menggunakan bahasa Jawa Diponggo.

Hingga saat ini, sebagian besar keturunan Suku Bawean di luar negeri seperti di Singapura dan Malaysia masih menjalin hubungan kekerabatan dengan sanak saudara mereka yang berada di Pulau Bawean, Jawa Timur.

Topics
suku bawean pulau bawean boyan budaya merantau jawa timur gresik sejarah kebudayaan
Jurnalis & Analis

Septy Nusaira Gehntari adalah jurnalis yang memiliki ketajaman analisis dalam berbagai isu. Ia dikenal dengan pendekatan humanis dalam menulis dan kemampuannya menyajikan berita kompleks menjadi mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.