Kabuki adalah bentuk teater klasik Jepang yang memadukan pertunjukan dramatis dengan tarian tradisional serta dikenal melalui kostum glamor dan tata rias kumadori yang mencolok. Seni teater ini diyakini bermula pada awal zaman Edo tahun 1603 ketika Izumo no Okuni membentuk rombongan tari wanita yang mementaskan drama tari sederhana di dasar Sungai Kamo di Kyoto.
Dalam perkembangan awalnya, teater Kabuki menampilkan berbagai tema populer dan sempat diasosiasikan dengan kalangan pekerja seks komersial di distrik lampu merah Yoshiwara. Karena sering memicu kericuhan di kalangan penonton samurai, pemerintah Keshogunan Tokugawa akhirnya melarang wanita tampil di atas panggung pada tahun 1629 dan menggantinya dengan penampil pria.
Memasuki periode Genroku, teater Kabuki mengalami perkembangan pesat dan struktur pementasannya mulai diformalkan menjadi tradisi yang dikenal hingga saat ini. Seniman seperti Ichikawa Danjuro I mempopulerkan gaya posing mie serta penggunaan riasan wajah kumadori yang menjadi ciri khas ikonik dalam pementasan drama.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengakuan global terhadap kesenian tradisional ini kian dikukuhkan ketika UNESCO memproklamirkan teater Kabuki sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2005. Pada tahun 2008, Kabuki secara resmi dimasukkan ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.
Transformasi dan Perjalanan Modern Teater Kabuki
Transformasi besar teater Kabuki berlanjut hingga masa Restorasi Meiji pada tahun 1868 ketika Jepang membuka diri terhadap pengaruh budaya Barat dan kalangan elit mulai memberikan dukungan penuh. Pergeseran tersebut ditandai dengan pementasan khusus yang disponsori oleh Kaisar Meiji pada 21 April 1887 untuk mengangkat kembali reputasi seni tradisional ini.
Setelah Perang Dunia II berakhir, pementasan teater Kabuki sempat menghadapi tantangan berat akibat pembatasan dari Pasukan Pendudukan Sekutu sebelum akhirnya aturan tersebut dicabut pada tahun 1947. Sutradara Tetsuji Takechi kemudian memelopori produksi inovatif yang berhasil membangkitkan kembali minat masyarakat di wilayah Kansai.
Di era modern saat ini, teater Kabuki telah menjadi salah satu bentuk drama tradisional paling populer di Jepang dengan para aktor utamanya sering tampil dalam berbagai peran televisi maupun film. Inovasi seperti pengenalan pemandu earphone berbahasa Inggris pada tahun 1982 juga turut memperluas jangkauan penonton internasional.
Berbagai rombongan teater Kabuki kini secara rutin melakukan tur ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat untuk memperkenalkan seni pertunjukan klasik tersebut. Kehadiran kelompok teater Kabuki di luar Jepang, seperti rombongan Za Kabuki di Australian National University sejak tahun 1976, membuktikan daya tarik global kesenian ini.