Minat investor teknologi memborong saham Piala Dunia sempat memicu polemik besar hingga membuat FIFA membatalkan rencana penjualan saham tersebut. Di tengah ancaman disrupsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang berpotensi mengubah lanskap hiburan global, para pemodal besar melihat sepak bola sebagai benteng pertahanan paling kokoh bagi rekreasi manusia.
Berdasarkan analisis awak media, eksekutif di Thrive Eternal yang merupakan anak usaha Thrive Capital melihat peluang emas dalam kompetisi sepak bola terakbar di planet ini. Perusahaan yang dipimpin oleh Joshua Kushner tersebut meyakini bahwa aspek tradisi, budaya, dan identitas kultural sepak bola tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin cerdas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana dilaporkan para pengamat industri olahraga, strategi investasi jangka panjang ini dirancang khusus untuk memburu aset-aset ikonik yang tahan uji zaman. Meskipun rencana investasi bernilai miliaran dolar tersebut mendapat penolakan sengit dan ancaman boikot dari berbagai asosiasi anggota, ketertarikan modal ventura terhadap industri sepak bola dipastikan tidak akan surut begitu saja.
Sejumlah pakar keuangan olahraga menilai langkah FIFA mencari pendanaan eksternal sebenarnya tidak dilandasi oleh kondisi finansial yang mendesak. Mengingat pendapatan turnamen edisi terbaru terus meroket melalui hak siar dan sponsor, manuver bisnis ini murni mencerminkan ambisi kapital global dalam memperluas komersialisasi sepak bola modern secara masif.