Presiden FIFA Gianni Infantino harus menghadapi gelombang perlawanan sengit dari berbagai konfederasi sepak bola dunia setelah meluncurkan rencana pembentukan perusahaan swasta untuk mengelola hak komersial dan turnamen. Gagasan yang melibatkan penjualan saham minoritas kepada investor swasta ini langsung memicu kemarahan global.
Melalui anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise, langkah tersebut dirancang untuk menghimpun dana miliaran dolar melalui penjualan sebagian kepemilikan hak siar, sponsor, hingga penyelenggaraan turnamen. Namun, skema bisnis ini dirancang secara senyap tanpa konsultasi memadai dengan para pemangku kepentingan utama sepak bola.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi balik rencana megah tersebut, sorotan tajam juga diarahkan pada keterlibatan kelompok investor yang dikaitkan dengan jaringan keluarga dekat lingkaran kekuasaan politik Amerika Serikat. Hal ini semakin memperkuat persepsi negatif di kalangan pengamat maupun pelaku industri sepak bola internasional.
Penolakan paling tegas datang dari UEFA yang secara bulat mengecam upaya menyerahkan kepemilikan turnamen kepada pihak luar. Mereka bahkan mengancam tidak akan menurunkan tim nasional di ajang resmi FIFA jika proposal komersial tersebut tetap dilanjutkan tanpa pembatalan total.
Gelombang Penolakan Global dan Mundurnya Penasihat FIFA
Tidak hanya UEFA, konfederasi sepak bola kawasan Amerika Utara dan Tengah yaitu Concacaf turut melayangkan protes keras terkait lemahnya proses tata kelola dan tenggat waktu yang terlalu singkat. Mereka menegaskan bahwa masa depan sepak bola global harus tetap berada di tangan komunitas sepak bola itu sendiri.
Suara senada juga disuarakan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC yang menyatakan solidaritasnya untuk menolak masuknya investasi swasta ke dalam turnamen utama FIFA. Ketiga konfederasi besar dunia ini menilai konsensus yang dibutuhkan mustahil tercapai di tengah ketidakpercayaan yang meluas.
Gejolak internal di tubuh FIFA pun tidak dapat dihindarkan menyusul mundurnya penasihat senior urusan strategi global dan tata kelola, Carlos Cordeiro. Keputusan mundur tersebut diambil karena ia menilai proposal bisnis yang diajukan merupakan langkah buruk yang berpotensi menggadaikan masa depan olahraga sepak bola.
Menghadapi tekanan politik yang masif dari berbagai penjuru dunia, termasuk kritik keras dari politisi di Amerika Serikat dan Inggris, rencana ambisius tersebut akhirnya ditarik kembali oleh Infantino. Kegagalan ini sekaligus menjadi catatan hitam bagi kepemimpinan tertinggi di tubuh organisasi sepak bola dunia.