Pertandingan final Piala Dunia 1958 tersaji di Rasunda Stadium, Solna, dekat Stockholm, Swedia, pada 29 Juni 1958 untuk menentukan juara turnamen akbar tersebut. Brasil keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan tuan rumah Swedia, sekaligus merengkuh gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah mereka. Kendati harus menelan kekalahan pahit di partai puncak, hasil tersebut tetap menjadi pencapaian terbaik Tim Nasional Swedia sepanjang keikutsertaan mereka di ajang Piala Dunia.
Laga puncak edisi 1958 tersebut memegang rekor sebagai pertandingan final Piala Dunia dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen. Rekor untuk pencetak gol termuda dan tertua di final Piala Dunia juga tercipta pada laga ini melalui aksi gemilang Pele pada usia 17 tahun 249 hari serta Nils Liedholm pada usia 35 tahun 263 hari. Pertemuan akbar itu mencatatkan sejarah sebagai final pertama mempertemukan tim asal Eropa dengan wakil dari Benua Amerika.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSwedia tercatat sebagai tim tuan rumah pertama sekaligus satu-satunya yang menelan kekalahan dalam laga final Piala Dunia. Kekalahan tersebut juga memastikan satu-satunya momen di mana turnamen Piala Dunia yang diselenggarakan di Benua Eropa gagal dimenangi oleh negara asal Eropa. Mário Zagallo menjadi pemain terakhir dari skuad juara Brasil yang wafat pada 5 Januari 2024, disusul Kurt Hamrin dari kubu Swedia sebulan kemudian.
Persiapan unik sempat terjadi sebelum pertandingan dimulai karena kedua tim mengenakan jersey utama berwarna kuning. Pihak penyelenggara mengadakan undian untuk menentukan tim berhak memakai seragam kandang, dimenangkan oleh Swedia setelah Brasil memboikot prosesi tersebut. Selecao sempat berencana mengenakan seragam putih, namun trauma kekalahan tahun 1950 membuat para pemain menolak gagasan tersebut. Akhirnya staf membeli 22 kaus biru dan menjahit lambang negara Brasil di dada.
Rekor Abadi dan Fakta Unik di Balik Laga Puncak
Swedia sempat mengejutkan publik tuan rumah setelah unggul lebih dulu pada menit keempat lewat penyelesaian akhir menawan kapten Nils Liedholm. Keunggulan tersebut tidak bertahan lama karena Vava berhasil mencetak gol penyeimbang kedudukan bagi Brasil berselang lima menit kemudian. Vava kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-32 melalui gol serupa untuk membawa tim tamu berbalik memimpin 2-1 saat turun minum.
Memasuki babak kedua, dominasi Brasil semakin tak terbendung lewat aksi brilian Pele sepuluh menit usai jeda pertandingan. Pele mengontrol bola di dalam kotak penalti, melambungkannya melewati bek lawan, lalu melepaskan tendangan keras ke gawang Kalle Svensson. Mario Zagallo memperbesar keunggulan Brasil menjadi 4-1 sebelum Simonsson memperkecil ketertinggalan Swedia, sementara Pele menutup kemenangan 5-2 lewat sundulan kepala di masa injury time.
Duel sarat sejarah pada tahun 1958 tidak hanya dikenang karena skor akhir yang mencolok, melainkan berbagai catatan rekor abadi. Pertandingan tersebut melahirkan rekor margin kemenangan terbesar dalam sejarah final Piala Dunia yang sejajar dengan edisi tahun 1970 dan 1998. Atmosfer Stadion Rasunda dipadati puluhan ribu suporter tuan rumah yang memberikan dukungan penuh bagi skuad asuhan George Raynor.
Keberhasilan Brasil merengkuh trofi Jules Rimet untuk pertama kalinya menandai era dominasi baru sepak bola Amerika Selatan di kancah global. Strategi cerdas pelatih Vicente Feola mampu meredam tekanan suporter tuan rumah sekaligus memaksimalkan potensi talenta muda seperti Pele dan Garrincha. Penampilan impresif lini serang Selecao menjadi momok menakutkan bagi lini pertahanan tim lawan sepanjang turnamen.