Jose Mourinho mengungkapkan bahwa dirinya memegang peran penting dalam membujuk Vinicius Junior agar menolak tawaran klub lain dan bertahan di Real Madrid. Penyerang berusia 26 tahun tersebut sebelumnya sempat dikaitkan dengan klub Premier League Arsenal sebelum akhirnya meneken kontrak baru berdurasi 6 tahun pada bulan ini.
"Saya bilang kepada Vini bahwa ke mana lagi dia ingin pergi karena dia hanya mengenal Real Madrid dan tidak ada tempat lain seperti klub ini," ujar Mourinho dalam acara televisi Spanyol El Chiringuito, Rabu (19/8).
Mourinho yang kembali menukangi Real Madrid pada Juni lalu menjelaskan bahwa kedekatan emosional dan perkembangan skuad menjadi alasan utama sang pemain enggan hengkang. Penyerang timnas Brasil itu akhirnya memutuskan memperpanjang masa baktinya di Santiago Bernabeu setelah melalui negosiasi panjang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam kesempatan yang sama, pelatih asal Portugal itu juga buka suara mengenai batalnya perekrutan gelandang Rodri ke kubu Los Blancos. Menurut Mourinho, keraguan yang sempat ditunjukkan oleh Rodri membuat pihak klub memilih mundur sebelum sang pemain akhirnya bergabung dengan rival abadi Barcelona.
Mourinho Bicara Soal Kedewasaan Diri Dan Insiden Rasialisme
Selain membahas masa depan Vinicius Junior, Jose Mourinho turut mengomentari insiden ketegangan yang melibatkan anak asuhnya saat menghadapi Benfica di ajang Liga Champions musim lalu. Ia menegaskan sikap tegasnya dalam melindungi pemain di tengah kontroversi dugaan pelecehan rasial.
"Prestianni adalah pemain saya dan tidak ada perdebatan mengenai hal tersebut karena saya akan selalu berada di sisinya," tegas Mourinho terkait dukungan penuh bagi pemain Benfica kala itu.
Memasuki periode kedua kepelatihannya di Real Madrid pada usia 63 tahun, Mourinho menilai dirinya kini jauh lebih matang dibandingkan periode pertama antara tahun 2010 hingga 2013 lalu. Pengalaman panjang melatih berbagai klub top Eropa membentuk karakternya menjadi lebih terkontrol tanpa harus kehilangan identitas aslinya.
"Saya jauh lebih matang, tidak begitu emosional, dan lebih terkontrol karena pengalaman mengajarkan banyak hal berharga," pungkas pelatih yang pernah memenangi berbagai gelar domestik bersama Los Blancos tersebut.